Blogger templates

News Update :

Berita On Line Lainnya

Materi Umum

Materi Mentoring

Syair dan Puisi

Tampilkan postingan dengan label Kisah Sahabat Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sahabat Nabi. Tampilkan semua postingan

Utsman ibnu Affan

Senin, 13 Agustus 2012






Keagungan Utsman ibnu Affan Dzunnurain

Terbunuhnya khalifah kedua, Umar ibnul Khattab ra. menandakan permulaan jaman baru. Pada waktu itu kaum muslimin memang tidak bergeser dari panji-panji dan prinsip-prinsip mereka, tapi mereka didesak oleh adanya hubungan-hubungan baru dan adat istiadat baru yang melanda mereka. Untuk menghadapi itu semua, takdir ALLAH telah memanggil Utsman ibnu Affan untuk memikul tanggung jawab yang berat untuk mempertahankan jiwa kehidupan periode kenabian.

Awal Masuk Islam

Takdir ALLAH lah yang telah menentukan Utsman untuk menyertai rombongan pertama yang menerima hidayah dan agama ALLAH. Utsman termasuk salah satu dari ketujuh orang yang selalu mendampingi dan menyertai perjuangan Rasulullah SAW. Dia amat mengenal siapa dan bagaimana Rasulullah ketika pertama menjadi Nabi. Pada suatu hari ketika pulang dari perjalanan dagangnya ke Syam dan ketika rombongan kafilahnya beristirahat di tempat teduh(antara Ma'an dan Azzarqa), Utsman dan kawan-kawannya tertidur. Ketika sedang tidur, tiba-tiba ia bermimpi mendengar suara yang menyeru mereka agar bangun karena orang yang bernama Ahmad telah muncul di kota Mekah. Rupanya telah sampai berita gembira kepada Utsman tentang hadirnya seorang nabi ALLAH, nabi akhir jaman. Mendengar berita itu, apakah Utsman bersikap pasif atau ragu? Ternyata tidak !, sifatnya yang pemalu, kelapangan dadanya dan kemurahan jiwanya mendorong untuk bertemu dengan Muhammad SAW. Itulah awal keislamannya.

Sifatnya Yang Pemalu

Setiap sahabat Nabi SAW memiliki keistimewaan sifat, baik yang tampak dalam ucapannya maupun dalam amal perbuatannya. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW : "Orang yang paling kasih sayang dari umatku ialah Abubakar, dan paling teguh dalam memelihara ajaran ALLAH ialah Umar, dan yang paling bersifat pemalu ialah Utsman." (HR. Ahmad, Ibnu Maajah, Alhakim, Attirmidzi). Sifat pemalu itulah yang mendorong Utsman ra menjadi seorang dermawan yang penuh welas asih, sehingga ketika Rasulullah SAW tengahj mempersiapkan pasukan "Al'usrah", seluruh biayanya ditanggung Utsman seorang diri. Rasulullah SAW menyambutnya dengan ucapan : "Tidak akan ada sesuatu yang dapat membahayakan Utsman dengan apa yang dia lakukan hari ini. Ya ALLAH, ridholah Utsman, sesungguhnya aku ridho kepadanya." (HR Attirmidzi)

Sifat Dermawan Yang Tinggi

Ketika kaum muslimin hijrah dari Mekah ke Madinah, mereka dihadapkan pada masalah air. Sedangkan disana ada sumur tapi milik orang yahudi dan sengaja diperdagangkan. Rasulullah SAW kemudian berharap ada sahabat yang mau membeli sumur itu. Mendengar itu Utsman datang ketempat orang Yahudi dan membeli separuh sumur itu dengan sehari untuk hak muslim, sehari lagi untuk hak Yahudi dengan harga 12.000 dirham. Pada giliran hak Utsman, maka umat muslim mengambil air sebanyak-banyaknya yang cukup untuk 2 hari. Hal itu menyebabkan orang Yahudi merasa sangat rugi karena tidak ada lagi yang membeli airnya, maka akhirnya dijual haknya kepada Utsman sebesar 8.000 dirham. Setelah peristiwa tersebut, Rasulullah SAW menikahkan putrinya, Ummu Kalthum dengan Utsman. Sebelumnya Utsman beristrikan Ruqayah, putri Rasulullah SAW yang kedua tapi ia telah wafat. Oleh karena itu Utsman ra mendapat julukan "Dzannurain" yang memilik dua cahaya. Yang dimaksud dua cahaya ialah mengawini dua orang putri Rasulullah SAW.

Mushhaf Utsmani

Suatu amal perbuatan yang mulia, langgeng sampai kiamat ialah apa yang telah dilakukan Utsman ra. Ayat-ayat yang telah dikumpulkan dan tertulis dalam lembaran-lembaran yang ditulis di masa Khalifah Abubakar dan tersimpan di rumah Hafshah sesudah wafatnya Umar ra diambil Utsman ra. Kemudian karena kepentingan itu Utsman membentuk panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit dengan Abdullah bin Zubair, Said bin Aash dan Abdurahman bin Haarits sebagai anggota. Tugas panitia itu membukukan Al-Quraan, yaitu dengan cara menyalin dari lembaran-lembaran sampai menjadi buku. Utsman memberi nasihat, jika ada perselisihan diantara mereka dalam bacaanya maka ayat-ayat itu harus ditulis menurut dialek suku Quraisy karena Al-Quraan diturunkan menurut dialek mereka. Al-Quraan yang telah dibukukan diberi nama "Al Mushhaf", yang sebuah ditangan khalifah Utsman(Madinah) dan empat buah lagi dikirim ke Mekah, Syria, Basra dan Kufah agar ditempat tsb bisa disalin. ALLAH SWT telah menyelamatkan Al-Quraan dari segala upaya perubahan. Dia telah memelihara kemurnian dan kelangsungannya sampai hari kiamat. ALLAh SWT berfirman : "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quraan, dan sesungguhnya Kami (pulalah) yang memeliharanya." (Al Hijr 9) Utsman ra akan tetap dikenang sebagai orang yang paling berjasa dalam bidang ini.

Utsman Dan Perluasan Da'wah Islamiah

Di masa khalifah Utsman, perluasan dakwah Islamiah mengalami jaman keemasan. Contoh pada tahun 24 Hijriah, Utsman mengirim pasukan tentara yang berada dibawah komando Alwalid bin Aqobah menuju Azebaijan dan Armenia, karena kedua daerah ini telah membatalkan perjanjian yang dibuat dengan kaum muslimin di jaman Umar ra. Juga pada tahun 25 H, penduduk Iskandariah membatalkan perjanjian karena mereka telah dijanjikan mendapat bantuan dari kerajaan Romawi, tapi negeri itu segera tunduk dan kembali dikuasai dengan damai oleh kaum muslimin setelah pasukannya menyerbu negeri ini. Dan masih banyak lagi tapi yang paling dahsyat tatkala Utsman mengutus Abdullah bin Saad (27 H) untuk menyerbu Afrika. tentara muslim berjumlah 20.000 berhadapan dengan kaum Barbar yang terdiri dari 120.000 orang dibawah pimpinan rajanya yaitu Jarjir. Dengan pertolongan ALLAH kaum muslimin dapat mengalahkan mereka hingga mereka menuju Andalusia (Spanyol). Para ahli sejarah menganggap masa Utsman ra sebagai jaman kemenangan kaum muslimin dan jaman penaklukan kekuatan-kekuatan Romawi, Parsi dan Turki.

Fitnah Besar dan Terbunuhnya Utsman

Pada akhir tahun 34 H daulah Islam mulai dilanda fitnah. Yang menjadi sasaran adalah Utsman ra sampai mengakibatkan Beliau terbunuh pada tahun berikutnya. Fitnah yang keji datang dari Mesir berupa tuduhan-tuduhan palsu yang dibawa oleh orang-orang yang datang hendak umroh pada bulan Rajab. Ali ra mati-matian membela Utsman atas serangan fitnah tersebut. Hingga suatu saat keadaan semakin parah dan Utsman dikepung dirumahnya dan tidak pergi ke masjid. Pada suatu hari para pembangkang menyerbu rumahnya lalu membunuhnya. Mereka tidak menaruh sedikitpun belas kasihan kepada Utsman yang telah berjuang dalam Islam dan menginfakan hartanya untuk peperangan. Ibnu Abidunia menyampaikan kisah dari Abdullah Bin Salaam, "Aku pergi ke rumah Utsman ketika dia sedang dikepung dirumahnya dan aku bertemu dengan dia, lalu dia berkata, "Selamat datang saudaraku, aku bermimpi bertemu Rasulullah SAW di suatu lorong yang sempit dan dan Beliau berkata :"Ya Utsman mereka mengepung kamu?" aku menjawab, "Ya" Nabi bertanya lagi, "Dan mereka membuat kamu haus?" Aku menjawab, "Ya" Kemudian Nabi memberiku ember berisi air dan aku minum sampai puas dan aku rasakan dinginnya air pada dada dan pundakku, lalu Beliau berkata, "Kalau kamu menghendaki, kamu dimenangkan dan kalau kamu menghendai berbuka puasa di tempat kami." Ketika itu Utsman dalam keadaan puasa . Utsman berkata, "Aku memilih berbukan puasa di tempat Nabi SAW." Tepat pada sore hari itu Utsman ra dibunuh. Ia dimakamkan di semak-semak bukit sebelah timur pekuburan Albaqii, hari Jumaat tahun 35 H tgl 17 Dzulhijjah dalam usia 80 atau 82 thn.

Rahmat ALLAH bagimu, hai Utsman, dan laknat ALLAH bagi para pembunuhnya dan para penyulut api fitnah.

Wassalam,
Lilik. Y (lilik.yuliantara@ifs.co.id)

Ali bin Abi Thalib







Pribadinya

Ayahnya adalah: Abu Thalib, paman Nabi saw, bin Abdul Muththalib, bin Hasyim, bin Abdi Manaf, bin Qushayy. Ibunya adalah: Fathimah binti Asad, bin Hasyim, bin Abdi Manaf. Saudara-saudara kandungnya adalah: Thalib, 'Uqail, Ja'far dan Ummu Hani.

Dengan demikian, jelaslah, Ali adalah berdarah Hasyimi dari kedua ibu-bapaknya. Keluarga Hasyim memiliki sejarah yang cemerlang dalam masyarakat Mekkah. Sebelum datangnya Islam, keluarga Hasyim terkenal sebagai keluarga yang mulia, penuh kasih sayang, dan pemegang kepemimpinan masyarakat. Ibunya adalah Fathimah binti Asad, yang kemudian menamakannya Haidarah. Haidarah adalah salah satu nama singa, sesuai dengan nama ayahnya: Asad (singa). Fathimah adalah salah seorang wanita yang terdahulu beriman dengan Risalah Nabi Muhammad Saw. Dia pula-lah yang telah mendidik Nabi Saw, dan menanggung hidupnya, setelah meninggalnya bapak-ibu beliau, Abdullah dan Aminah. Beliau kemudian membalas jasanya, dengan menanggung kehidupan Ali, untuk meringankan beban pamannya, Abu Thalib, pada saat mengalami kesulitan ekonomi. Saat Fathimah meninggal dunia, Rasulullah Saw yang mulai mengkafaninya dengan baju qamisnya, meletakkannya dalam kuburnya, dan menangisinya, sebagai tangisan seorang anak atas ibunya. Dan bersabda:

"Semoga Allah SWT memberikan balasan yang baik bagi ibu asuhku ini. Engkau adalah orang yang paling baik kepadaku, setelah pamanku dan almarhumah ibuku. Dan semoga Allah SWT meridhai-mu."

Dan karena penghormatan beliau kepadanya, maka beliau menamakan anaknya yang tersayang dengan namanya: Fathimah. Darinyalah kemudian mengalir nasab beliau yang mulia, yaitu anak-anaknya: Hasan, Husein, Zainab al Kubra dan Ummu Kultsum.

Haidarah adalah nama Imam Ali yang dipilihkan oleh ibunya. Namun ayahnya menamakannya dengan Ali, sehingga dia terkenal dengan dua nama tersebut, meskipun nama Ali kemudian lebih terkenal.

Anak-anaknya adalah: Hasan, Husein, Zainab, Ummu Kultsum, dari Fathimah binti Rasulullah Saw. Seorang isteri yang tidak pernah diperlakukan buruk oleh Ali r.a. selama hidupnya. Bahkan Ali tetap selalu mengingatnya setelah kematiannya. Ia juga mempunyai beberapa orang anak dari isteri-isterinya yang lain, yang ia kawini setelah wafatnya Fathimah r.a. Baik isteri dari kalangan wanita merdeka maupun hamba sahaya. Yaitu: Muhsin, Muhammad al Akbar, Abdullah al Akbar, Abu Bakar, Abbas, Utsman, Ja'far, Abdullah al Ashgar, Muhammad al Ashghar, Yahya, Aun, Umar, Muhammad al Awsath, Ummu Hani, Maimunah, Rahmlah ash Shugra, Zainab ash Shugra, Ummu Kaltsum ash Shugra, Fathimah, Umamah, Khadijah, Ummu al Karam, Ummu Salmah, Ummu Ja'far, Jumanah, dan Taqiyyah.

Keturunannya yang mulia, selanjutnya mengalir dari Hasan, Husain, Muhammad bin Hanafiah, Umar dan Abbas. Karena kecintaan dan penghormatannya yang mendalam terhadap sahabat Nabi yang mulia, dan yang telah dijanjikan masuk surga, maka ia menamakan beberapa orang anaknya dengan nama-nama mereka, yaitu: Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Abu Bakar, anaknya, terbunuh bersama Husain dalam peristiwa Karbala. Anak ini merupakan anak dari isterinya, Laila bin Mi'waz. Sementara anaknya Utsman yang dilahirkan dari isterinya Ummu Banin, juga terbunuh dalam perisitwa Karbala. Sedangkan Umar adalah anaknya dari Ummu Habib ash Shahba.

Saat imam Ali mendapatkan mati syahid, ia meninggalkan empat orang isteri yang merdeka, yaitu: Umamah, Laila, Ummu Banin dan Asma bin 'Umais. Serta delapan belas orang hamba sahaya wanita.

Jumlah seluruh anak lakinya adalah lima belas orang, dan anak perempuannya adalah delapan belas orang.

Kelahirannya

Fathimah binti Asad melahirkan anaknya, Haidarah (Ali KW), di Ka'bah, pada dua puluh satu tahun sebelum hijrah. Ada yang mengatakan, pada tahun ke tiga puluh dua dari kelahiran Rasulullah saw. Ia adalah anak bungsu dari kedua orang tuanya, selain Ja'far, Uqail dan Thalib. Saat Abu Thalib mengalamai krisis ekonomi karena kekeringan yang melanda, seperti yang dialami oleh orang-orang Quraisy, Rasulullah saw menyarankan kepada kedua pamannya: Hamzah dan Abbas untuk turut membantu meringankan beban saudaranya, Abu Thalib, dengan menanggung biaya hidup anaknya. Maka keduanya pun memenuhi permintaan tersebut. Mengetahui hal itu, Abu Thalib berkata kepada kedua saudaranya tersebut,: "Ambillah siapa yang kalian ingini, namun tinggalkanlah Uqail, untuk tetap aku didik." Uqail adalah anak yang paling disayangi oleh Abu Thalib. Maka Abbas mengambil Thalib, Hamzah mengambil Ja'far dan Rasulullah saw mengambil Ali KW.

Adalah Nabi Saw bagi anak keponakannya, Ali KW, bertindak sebagai bapak, saudara, teman, dan guru pendidik. Dan Ali pun menerima beliau pengganti kedua orang tua, dan keluarganya. Sehingga ia pun terdidik dalam didikan Nabi Saw. Ia Merupakan keturunan puncak keluarga Hasyimiah, yang darinya terlahir kemuliaan, kedermawanan, sifat pemaaf, ksaih sayang dan hikmah yang lurus.

Seperti diriwayatkan, ia tumbuh menjadi anak yang cepat matang. Di wajahnya tampak jelas kematangannya, yang juga menunjukkan kekuatan, dan ketegasan. Saat ia menginjak usia pemuda, ia segera berperan penuh dalam dakwah Islam, tidak seperti yang dilakukan oleh pemuda seusianya. Contoh yang paling jelas adalah keikhlasannya untuk menjadi tameng Rasulullah Saw saat beliau hijrah, dengan menempati tempat tidur beliau. Ia juga terlibat dalam peperangan yang hebat, seperti dalam perang Al Ahzab, dia pula yang telah menembus benteng Khaibar. Sehingga dia dijuluki sebagai pahlawan Islam yang pertama.

Isteri-isterinya: setelah Fathimah az Zahra wafat, Imam Ali menikahi Umamah bin Abi Al Ash bin Rabi' bin Abdul Uzza al Qurasyiyyah. Selanjutnya menikahi Umum Banin bini Haram bin Khalid bin Darim al Kulabiyah. Kemudian Laila binti Mas'ud an Nahsyaliyyah, ad Daarimiyyah dari Tamim. Berikutnya Asmaa binti 'Umais, yang sebelumnya merupakan isteri Ja'far bin Abi Thalib, dan selanjutnya menjadi isteri Abu Bakar (hingga ia meninggal), dan berikutnya menjadi isteri imam Ali. Selanjutnya ia menikahi Ummu Habib ash Shahbaa at Taghalbiyah. Kemudian, Khaulah binti Iyas bin Ja1far al Hanafiyyah. Selanjutnya Ummu Sa'd ats Tsaqafiyyah. Dan Mukhabba'ah bintih Imri'il Qais al Kulabiyyah.

Sifat-sifatnya: Imam Ali KW adalah seorang dengan perawakan sedang, antara tinggi dan pendek. Perutnya agak menonjol. Pundaknya lebar. Kedua lengannya berotot, seakan sedang mengendarai singa. Lehernya berisi. Bulu jenggotnya lebat. Kepalanya botak, dan berambut di pinggir kepala. Matanya besar. Wajahnya tampan. Kulitnya amat gelap. Postur tubuhnya tegap dan proporsional. Bangun tubuhnya kokoh, seakan-akan dari baja. Berisi. Jika berjalan seakan-akan sedang turun dari ketinggian, seperti berjalannya Rasulullah Saw. Seperti dideskripsikan dalam kitab Usudul Ghaabah fi Ma'rifat ash Shahabah: adalah Ali bin Abi Thalib bermata besar, berkulit hitam, berotot kokoh, berbadan besar, berjenggot lebat, bertubuh pendek, amat fasih dalam berbicara, berani, pantang mundur, dermawan, pemaaf, lembut dalam berbicara, dan halus perasaannya.

Jika ia dipanggil untuk berduel dengan musuh di medan perang, ia segera maju tanpa gentar, mengambil perlengkapan perangnya, dan menghunuskan pedangnya. Untuk kemudian menjatuhkan musuhnya dalam beberapa langkah. Karena sesekor singa, ketika ia maju untuk menerkam mangsanya, ia bergerak dengan cepat bagai kilat, dan menyergap dengan tangkas, untuk kemudian membuat mangsa tak berkutik.

Tadi adalah sifat-sifat fisiknya. Sedangkan sifat-sifat kejiwaannya, maka ia adalah sosok yang sempurna, penuh dengan kemuliaan.

Keberaniannya menjadi perlambang para kesatria pada masanya. Setiap kali ia menghadapi musuh di medan perang, maka dapat dipastikan ia akan mengalahkannya.

Seorang yang takwa tak terkira, tidak mau masuk dalam perkara yang syubhat, dan tidak pernah melalaikan syari'at.

Seorang yang zuhud, dan memilih hidup dalam kesederhanaan. Ia makan cukup dengan berlauk-kan cuka, minyak dan roti kering yang ia patahkan dengan lututnya. Dan memakai pakaian yang kasar, sekadar untuk menutupi tubuh di saat panas, dan menahan dingin di kala hawa dingin menghempas.

Penuh hikmah, adalah sifatnya yang jelas. Dia akan berhati-hati meskipun dalam sesuatu yang ia lihat benar, dan memilih untuk tidak mengatakan dengan terus terang, jika hal itu akan membawa mudharat bagi umat. Ia meletakkan perkara pada tempatnya yang tepat. Berusaha berjalan seirama dengan rekan-rekan pembawa panji dakwah, seperti keserasian butiran-butiran air di lautan.

Ia bersikap lembut, sehingga banyak orang yang sezaman dengannya melihat ia sedang bergurau, padahal hal itu adalah suatu bagian dari sifat kesempurnaan yang melihat apa yang ada di balik sesuatu, dan memandang kepada kesempurnaan. Ia menginginkan agar realitas yang tidak sempurna berubah menjadi lurus dan meningkat ke arah kesempurnaan. Gurauan adalah 'anak' dari kritik. Dan ia adalah 'anak' dari filsafat. Menurutku, gurauan yang tepat adalah suatu tanda ketinggian intelektualitas para tokoh pemikir dalam sejarah.

Ia terkenal kefasihannya. Sehingga ucapan-ucapannya mengandung nilai-nilai sastra Arab yang jernih dan tinggi. Baik dalam menciptakan peribahasa maupun hikmah. Ia juga mengutip dari redaksi Al Quran, dan hadits Rasulullah Saw, sehingga menambah benderang dan semerbak kata-katanya. Yang membuat dirinya berada di puncak kefasihan bahasa dan sastra Arab.

Ia amat loyal terhadap pendidiknya, Nabi-nya, juga Rabb-nya. Serta berbuat baik kepada kerabatnya. Amat mementingkan isterinya yang pertama, Fathimah az Zahra. Dan ia selalu berusaha memberikan apa yang baik dan indah kepada orang yang ia senangi, kerabatnya atau kenalannya.

Ia berpendirian teguh, sehingga menjadi tokoh yang namanya terpatri dalam sejarah. Tidak mundur dalam membela prinsip dan sikap. Sehingga banyak orang yang menuduhnya bodoh dalam politik, tipu daya bangsa Arab, dan dalam hal melembutkan sikap musuh, sehingga kesulitan menjadi berkurang. Namun, sebenarnya kemampuannya jauh di atas praduga yang tidak benar, karena ia tahu apa yang ia inginkan, dan menginginkan apa yang ia tahu. Sehingga, di samping kemanusiaannya, ia seakan-akan adalah sebuah gunung yang kokoh, yang mencengkeram bumi. Itu emua adalah cermin dari percaya dirinya, keimanannya, dan keyakinanya terhadap Rabb-nya, lantas bagaimana mungkin ia menjadi lembek?

Ia dengan teguh menolak sikap yang tidak sesuai dengan kebenaran, atau syari'ah, atau akhlak atau kemuliaan. Jiwanya yang mulia menolak untuk menipu seorang gubernur yang senang berkuasa, dan yang menghamburkan kekayaan umat untuk kepentingan hamba nafsunya. Ia tidak tidak peduli dengan orang yang membenci, atau orang yang memusuhinya. Menurutku, ia adalah sifat orang yang kuat, baik dalam kepribadiaannya, pendapatnya dan dalam memegang kebenaran.

Barangkali ada yang berpikir bahwa ia telah bersikap lunak dalam peristiwa tahkim (arbitrase). Namun menurutku, dugaan seperti itu adalah suatu kebodohan. Imam Ali KW tidak bersifat lembek, namun ia lebih mementingkan persatuan umat. Karena orang-orang yang ikut bersidang saat itu sedang berada dalam kubu-kubu yang saling berbeda pendapat. Maka ia memilih untuk keluar dari kondisi terburuk menuju kondisi yang buruk. Ia telah menegaskan hal itu, dan memberi peringatan kepada para pengikutnya. Namun ternyata orang-orang yang berada di sekitarnya tenggelam dalam perdebatan tanpa ujung dan pertikaian tanpa henti. Sehingga terjadilah peristiwa-peristiwa yang memilukan.

Rasa kasih sayang dalam hatinya-lah yang mendorong dirinya untuk bersikap lunak dan tidak keras. Hal itu ia lakukan karena ingin menyelamatkan orang lain, sehingga ia rela meletakkan dirinya dalam bahaya. Ia rela untuk menebus nyawa orang yang ia kasihi, atau kelompok orang yang beriman, atau beberapa orang yang sedang diincar oleh musuh, dengan nyawanya. Sehingga diapun bersikap lunak, dan meminta jalan yang lebih baik. Agar kasih sayang mengalahkan kecemburuan, kecintaan mengalahkan kekerasan, dan menjauhkan orang-orang yang ia sayangi dari kebinasaan. Orang yang membaca apa yang ia pinta kepada Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Abdullah, niscaya akan mengetahui bahwa keduanya telah menghianatinya, dan memeranginya. Maka iapun mengecam keduanya, dengan kecaman seorang penyayang terhadap orang yang ia sayangi. Ia mengingatkan keduanya tentang janji-janji yang pernah mereka ucapkan, dan kebersamaan mereka dalam menegakkan kalimat Allah SWT. Apa yang ia lakukan saat terjadi bentrokan yang terjadi antara dirinya dan Aisyah menjadi bukti akan ketinggian sifat kasih sayangnya, kemuliaan perasaannya, dan usahanya yang keras untuk memadamkan tanda-tanda ambisi rendahan, yang tidak layak bagi tokoh besar seperti dirinya, juga bagi tokoh mulia semacam Aisyah r.a. Oleh karena itu, ia berusaha melakukan negosiasi yang hanya dapat dilakukan oleh orang besar semacam dirinya, yaitu para mujahidin yang mulia.


Dari buku: Khutbah-khutbah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib RA. Judul Asli: Khuthab Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib RA. Pensyarah: Imam Muhammad Abduh Penerbit: Maktabah Shahaafah, Kairo, tt. Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani, Sulthoni Yusuf dan Masnur Hamzah Edisi bahasa Indonesia akan diterbitkan oleh Gema Insani Press.

Renungan

Kisah Islami

 
© Copyright HikmahMu | Published by Tutorial Blog