Blogger templates

News Update :

Berita On Line Lainnya

Materi Umum

Materi Mentoring

Syair dan Puisi

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

ALLAH, dalam bahasa cinta

Jumat, 03 Februari 2012


“Ada banyak hal sederhana yang mampu membuat hidup menjadi lebih hidup, mampu menjadi hidayah dan hikmah, let’s find it !! “

Kalimat diatas menjadi hentakan tersendiri disenja terakhir dipenghujung tahun 2011, seperti menarik saya untuk kembali memainkan jari jemari saya diatas tuts hitam notebook tua saya, seolah mendorong saya untuk duduk dan membuka gerbang kebun hikmah yang kerap saya tinggalkan, rongga kehidupan saya yang kerap saya catat sejak tahun 2008 ini menimbulkan rasa rindu sendiri, menulis memang memiliki getar yang berbeda *rasanya nano nano ya man...”

Iya, saya adalah lelaki yang menulis apa saja yang saya pikirkan, menulis bukan sekedar hobi tapi telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya, saya menulis tentang rasa, tentang luka, tentang yang datang dan yang pergi, tentang yang mampu saya lihat, yang bisa saya dengar, tentang berbagi, tentang kehilangan demi kehilangan, tentang amarah yang tak mampu saya bendung, bahkan tentang cinta yang datang dan pergi, yang diam diam dan terang terangan (sama sakitnya yah, ah sudahlah maafkan saja) dari semua rangkaian kata yang mampu saya susun menjadi kalimat, saya belajar bahwa hidup adalah sebuah perjalanan seorang hamba
menuju kepada pemiliknya, dan saya menulis setiap langkah hingga akhir 2011 lalu

2008 awal saya menulis, sebenarnya dari 2006 saya menulis tapi perjalanan hidup memaksa saya untuk menghapus lembaran lama, untuk tidak mengingat ingat lagi, untuk membakar menjadi abu, meski memori tersimpan di lubuk, membakar tak menghapus ternyata, dan kemudian saya sesali mengapa harus menghapus luka lama, toh luka tetap akan datang dan datang lagi hanya bentuknya berbeda, dari orang yang berbeda pula, toh cinta akan menyembukan dari orang yang berbeda dalam bungkus yang berbeda pula, iya hidup memang permainan hati.

Karena jika hidup tanpa luka maka dimana
bahagia, toh tak akan terasa bahagia jika tak tahu rasanya luka bukan? hehehe … bahagianya saya saat ini karena saya mampu mentertawakan luka, mampu berdiri diatas hujan selebat apapun, karena perjalanan hidup telah mengajarkan saya bahwa ALLAH ada dan selalu ada, disetiap luka dan bahagia.

Pada akhirnya hidup ini berat dan tidak adalah dari bagaimana kita memandangnya “Jangan pernah mengukur tinggi gunung sebelum sampai dipuncaknya, karena begitu saya berada dipuncaknya saya akan melihat betapa rendahnya gunung” jadi apapun makanannya teh botoh minumannya, hehehe … canda dink!

Artinya ketika ALLAH hadir dalam bahasa cinta maka tak ada lagi yang sulit dalam hidup ini, hati tenang jauh dari galau, pikiran jernih tanpa terganggu hal hal yang
menyesakan dada tentang prilaku orang lain terhadap saya, tak ada yang mampu membuat saya bersedih kecuali ALLAH, tak ada yang mampu membuat saya bahagia pula kecuali ALLAH !! TOP deh memang ALLAH.

Lalu bagaimana mencapai level itu ? seorang sahabat saya bertanya “jadi, kapan pertolongan ALLAH itu datang?” lalu saya jawab sekenanya, “pertolongan ALLAH datang ketika kita mendatangi ALLAH” kalau butuh pertolongan tetapi tak
mendatangi ALLAH jadi gimana ALLAH mau nolongnya dong, begitu juga dengan cinta ALLAH, tak akan ada, tak akan datang ketika saya tidak mencintaiNYA, gak enak kan rasanya bertepuk sebelah tangan, nah ALLAH tak mengenal istilah itu, saya datang selangkah mendekat, ALLAH telah sehasta menghampiri, Subhanallah …

selamat melangkah mendekati ALLAH, tak ada cara paling benar dalam merayakan pergantian waktu selain Hijrah, memaksa hati dan diri untuk terus menjadi hamba ALLAH yang lebih baik dan lebih baik lagi, untuk mencintai ALLAH more and more, kan kita gak tahu kalau tahun ini napas kita berhenti yah? nah loh !!

Yang lalu sudahlah, maafkan dan biarlah berlalu, biarlah kesalahan kemarin menjadi mati dan terkubur dalam pusara yang terbuat dari semen, alisa sumur mati dan berjanjilah untuk tidak mengulangi lagi, biarlah cinta yang lalu pergi dan petiklah pelajaran bahwa mencintai selain ALLAH hanya akan kecewa, karena kebahagiaan adalah milik ALLAH, selain itu semu, jikapun indah bertabur bunga tapi fana, walaupun menggebu penuh getar asmara tapi semua hanya main main.

ALLAH memang memberi makan dan kehidupan ke semua hambaNYA, tanpa cintaNYA hanya diberikan kepada yang mencintaiNYA melebihi apapun, jangan bilang cinta jika tak teruji bukan?

yuk buktikan cinta dalam bahasa ALLAH

Irhamanna ya ALLAH … Irhamanna
by:umi

Tersenyumlah, Karena Kami Semua Tersenyum Melepasmu....


Ribuan tapak kuat menghentak

Ribuan jiwa serentak mengarak

Ribuan doa pengiring merebak

Bersama lantunan kebaikan malaikat yang menyalak...

Tersenyumlah akhi....

Temuilah Rabb-Mu dalam senyum

Yakinlah...

Keteladananmu telah mengalir di nadi-nadi kami

Keistiqomahanmu manggurat kuat di hati kami

Kesiqohanmu terajut erat di jiwa ini

Meskipun mungkin, kau tak menyadari

Melupakannya demi menjaga kesucian, sekedar meluruskan keikhlasan....

Tak terhitung air mata yang menetes mengenangmu

Jasad mungil yang berkontribusi besar

Bagi ummat yang haus sentuhan....

Demi dakwah dan mimpi kejayaan yang kau perjuangkan ....

Ya akhi....

Kami yakin dirimu anugerah Illahi bagi ummat

Melalui tangan lentikmu, hidayah terhantarkan dengan indah

Ya... Pasti itu karena titah Illahi

Kalimat lembutmu merasuk menggerakkan setiap hati insan yang kehilangan arah

Hingga bertemu, bercengkrama, berjuang bersama panji islam

Bersama dakwah....

Kini jasadmu telah diam membisu

Namun dalam diam itu, lisanmu tetap menasehati

Bersama diam itu pun, semangatmu terus menginspirasi

Melecut jiwa-jiwa pecinta mati

Membakar gelora bernurani suci

Istirahatlah ya akhi...

Di kebun-kebun surga yang pernah kau tanam

Di ladang-ladang amal yang pernah kau semai

Hingga kelak tiba waktunya...

Kita berkumpul dalam suka cita yang dalam....

by:fs

"TIKET"


Assalamu alaikum..

Ini lah catatan yg ku buat tanpa secarik kertas dan goresan tinta..

Isinya tentang tiket, tiket?? Iya tiket, tp bkn untuk menonton suatu pertunjukan dan bukan pula untk bepergian..

Ini lah tiket yg kan didapat semua orang, tiket ini utk masuk Surga atau Neraka..

Mulai seru nih kayanya..

Yg Pertama adalah tiket ke Surga, tiket ini g gampang dapetnya, jauh lebih susah drpd dapetin tiket piala AFF hehe, dan g semua org mampu dptin tiket ini, karena syaratnya bnyk banget, hanya orang2 pilihan yg lulus ujian aja yg bisa dapetin ni tiket, kewajiban kita jg g blh ketinggalan, sikap sehari2 jg ikut menentukan, kesabaran, keikhlasan, dan kedisiplinan harus dimiliki klo mw dapetin ni tiket..

Susah ya? Namanya jg mw ke Surga, wajar kan..

Yang kedua yaitu tiket ke Neraka, nah klo yg ini gampang bgt dapetinnya, ga usah ngapa2in jg udah pasti dapet, tinggal jalanin hidup semau kita aja, g usah malu2 mw ngapain aja, dan kaya nya nie tiket bnyk yg pengen klo kita ngeliat kehidupan jaman sekarang, penghuni dunia udah pada ga karuan, dr bocah ampe org tua kelakuannye pada urakan, jd klo mw dapet ni tiket g usah ngapa2in, langsng otomatis dpt, Gampang kan?

Nah sekarang tinggal milih deh mw tiket yg mana? Yg susah dapetnya atw yg gampang?

Kayanye mah bnyk yg mw tiket pertama tp dapetinnya pke cara yg kedua.. Hahaha..

Wassalam..

by:fm

Bangkrut....


Suatu ketika Rasulullah saw bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “wahai sahabat-sahabatku tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Salah seorang sahabat Nabi menjawab, “Ya Rasulullah, orang yang bangkrut itu adalah orang yang mengalami kerugian akan harta bendanya sehingga ia tidak memiliki apa-apa lagi.”

“Tidaklah demikian wahai sahabatku.” Jawab Nabi saw. “Orang yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala sholatnya, puasanya, zakatnya, sedekahnya, wakafnya, hajinya dan umrohnya; tetapi ketika seluruh pahala kebaikannya itu ditimbang dihadapan Allah SWT, datanglah ISTRINYA yang mengadukan kezaliman yang diterimanya ketika hidup di dunia dahulu. “Ya Allah dahulu aku selalu mendapat perlakukan kasar darinya dan ia selalu menyakitiku.” Maka Allah menyuruh agar orang itu membayar kepada istrinya dengan sebahagian pahalanya.

Kemudian datang lagi ANAKNYA mengadukan kezaliman yang diterimanya kepada Allah SWT. “Ya Allah dahulu ketika aku hidup di dunia, ayahku ini memperlakukanku dengan tidak adil. Ia melebihkan saudaraku yang satu dari diriku. Disaat aku dalam kesulitan, ia tidak memperdulikanku walaupun aku selalu berbakti kepadanya.” Maka Allah menyuruh orang itu membayar kepada anaknya dengan sebahagian pahalanya.

Kemudian datang lagi ORANG LAIN yang mengadukan kepada Allah. “Ya Allah dahulu ia menyebarkan berita bohong (fitnah) tentang diriku.” Maka Allah menyuruhnya lagi untuk membayar dengan pahalanya kepada orang yang mengadu itu.

Kemudian datang lagi orang yang lain yang mengadukan kezalimannya, sampai akhirnya seluruh pahala shalat, haji, umroh, puasa, zakat, sedeqah, dan wakafnya itu habis dipakai untuk membayar orang-orang yang pernah ia zalimi dan ia rampas hak-hak mereka sewaktu ia hidup di dunia.

Sementara itu orang-orang yang mengadu masih saja datang. Maka Allah ‘Azza wa Jalla dengan adil memutuskan agar dosa orang yang mengadu itu dipindahkan kepadanya sebagai tebusan atas kezaliman yang pernah ia lakukan ketika di dunia dahulu.”

Rasulullah melanjutkan, “Itulah orang yang bangkrut. Ia rajin beribadah tetapi ia tidak memiliki akhlak yang baik. Ia banyak melakukan ketidakadilan, merampas hak orang lain, dan banyak menyakiti hati orang lain.” (HR At Tirmidzi)

by:fn

I’m proud to be a Moslemah


I’m proud to be a Moslemah

Teruntuk sahabat, saudara : yang mau menikah, yang sudah menikah, dan yang belum niat untuk nikah.

Wanita, perempuan, akhwat, muslimah. Berapa nilai seorang wanita? Pertanyaan yang pernah terbersit saat diri ditanya mahar…

Pertanyaan yang mengingatkan pada sebuah diskusi dadakan, iseng, sambilan, saat kawan nyeletuk “kalau di luar negeri (eropa_red) mah susah cari laki-laki yang mau menikah, mereka lebih milih nyewa wanita dari daripada membeli wanita, bisa ganti sesuka hati. Masalah pekerjaan istri yang lain tinggal bayar pembantu.”

“terus menurutmu begitu baik dan cerdas?” tanyaku bernada protes.

“saya kan beragama Na, jadi mesti mikirlah kalau mau begitu.”

“Ah… ga usah pake agama deh, logika aja udah cukup buat ngitung untung ruginya kok. Begini ….”

“Wanita yang suatu hari memutuskan menjadi istrimu adalah makhluk termulia, bagaimana tidak – jika ia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk mengabdi dan melayanimu , seandainya kau menyewa seorang pembantu yang bertugas bersih2, nyuci, gosok dan masak berapa kau harus bayar ia tiap bulan? Tanteku membayar pembantunya Rp. 750.000,- per bulan bersih (sandang, pangan, papan ditanggung tanteku)untuk masak bersih2 rumah dan gosok (nyuci pake mesin).

Istrimu adalah pelabuhan yang akan kau cari saat lelah kapal berlayar di samudera luar sana, ia akan menyiapkan air hangat, baju ganti dan memijitmu saat kau pulang ke rumah. Hmmm…. Bayar tukang pijit panggil ke rumah saja Rp. 50.000,- x 8/bulan = Rp. 400.000,-.

Laki-laki lebih sulit menahan saat hasrat begitu melanda, dan istri selalu datang dengan pakaian terbaiknya untuk melayani hasrat sang suami, kapanpun sang suami memanggilnya. Seandainya kau tidak memiliki istri kau akan mencari wanita penjajak seks di tempat prostitusi, biasanya sewa kamar per 2 jam Rp. 150.000,- x 4/bulan = Rp. 600.000,- dan bayaran untuk wanita cantik (bispak/pastinya sudah tidak perawan) sekitar Rp. 500.000,-/ pakai x 4/bulan = Rp. 2.000.000,-.

Pada siapa kau ceritakan keluh kesahmu, pada siapa kau diskusikan permasalahanmu, pada siapa kau minta nasihat baik setelahnya? Pada istrimu, istrimu akan setia mendengarkan, memikirkan, menasihati dan mencarikan jalan keluar. Jika kau tak punya istri maka kau akan mencari psikolog, dan untuk satu kali kedatangan kau harus membayarnya Rp. 250.000,-.

Ini adalah hal rutin yang kau butuhkan, kalau di total sebulan kau harus mengeluarkan Rp. 3.400.000,- untuk standar minimal memenuhi kebutuhanmu tanpa istri.

Lalu ada kalanya kau sakit dan butuh perawatan. Jika kau panggil perawat ke rumah, sehari kau harus membayarnya Rp. 70.000,-. Belum lagi tuntutan keluarga mendapatkan generasi penerus. Di film yang pernah saya tonton seorang pria bersedia membayar milyaran demi mendapatkan bayi dan setelahnya harus membayar baby sitter, mungkin bayarannya sekitar Rp. 1.000.000,-/bulan. Yah… silahkan kalkulasikan sendiri berapa kau harus membayar itu semua.

Dan wanita yang akan menjadi istrimu dengan apa kau membayar maharnya? Dengan apa yang dimintanya, dan biasanya wanita hanya meminta mahar seperangkat alat sholat, atau hafalan, atau beberapa gram emas/perhiasan untuk sebuah pengabdian seumur hidup. Tidakkah mereka begitu mulia? Ah… sebab itu hanya wanita yang sanggup diberi amanah yang begitu besar… mengandung dan melahirkan generasi penerus .

Mereka telah melepaskan egonya meninggalkan jabatan dan karir juga cita-cita duniawi untukmu dan keluarga, dan bagi mereka yang memutuskan tetap berkarir dan berkarya, mereka pun telah menguatkan diri untuk memikul tanggung jawab yang jauh melebihi tanggung jawab suaminya. Luar biasa… kekuatan yang mereka punya.

Lalu bagaimana ia dapat setia dengan pengabdiannya? Keyakinan, keyakinan bahwa pengabdiannya adalah aplikasi ketaatan pada Sang Maha yang akan memberikan muara pada pertemuan dengan Sang Maha. Janji, janji Tuhan atas kesetiaannya mengemban amanah, bahwa Syurga di letakkan di bawah telapak kakinya. Seberat apapun tugas seorang istri yang menjadi ibu, ia akan tetap suka cita melaksanakan amanah berat itu, karena janji Allah begitu indah melebihi segala pengorbanan yang dilakukannya. Karena itu wahai suami janganlah kau ceraikan istrimu yang telah mengabdikan hidupnya untukmu atau kau madu ia tanpa ridhonya jika kau tak mendapat keturunan dengannya, sungguh hatinya telah teramat berduka atas hilangnya satu penguat hati untuk ikhlas menjalankan segala ketaatan dan pengabdian, karena itu jangan kau tambah sakitnya dengan memikirkan egomu belaka.

Jadi sayangilah istrimu karena ia pasti akan lebih menyayangimu, hormati ia karena pasti ia akan lebih menghormatimu, manjakan ia karena pasti ia akan lebih memanjakanmu, jagalah ia karena pasti ia akan lebih menjagamu, setialah padanya karena pasti ia akan lebih setia padamu, lembutlah padanya karena ia pasti akan lebih lembut padamu, doakan ia karena ia pasti akan lebih mendoakanmu. Ia adalah tulang rusuk yang kan menyempurnakan hidupmu, ia adalah perhiasan terindah yang Allah anugerahkan untukmu.”

“Jadi apa masih perlu alasan untuk menikah dan beristri wanita salihah?” tanyaku.

“Umm… Hmmm… Wow..! jadi, mahar apa yang kau minta saat ada seorang laki-laki yang telah diridhoi keluarga dan jamaah (Tuhan_Red) saat hendak menikahimu?” mengeriyitkan keningnya.

???

nkp

BAGAIMANA MEREKA MENDIDIK KAMI...


Ini adalah sebuah tulisan yang saya dapatkan dari DPD Kota Bekasi. Tulisan ini merupakan tulisan dari seorang anak kader di Kota Bekasi, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi kita baik yang sudah menikah dan memiliki anak atau yang akan menyegerakan untuk menikah atau yang belum menikah tentang bagaimana seni mendidik anak-anak kita. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.^__^

BAGAIMANA MEREKA MENDIDIK KAMI

(Tulisan seorang Anak Kader)

Saya bingung ingin memulai kisah ini dari mana ketika seseorang yang saya hormati meminta saya menuliskan tentang bagaimana orangtua saya mendidik saya—atau lebihnya tepatnya “kami”, saya dan adik-adik saya. Kedua orangtua saya, adalah orang yang betul-betul sederhana. Dan karena saking sederhananya itulah saya merasa bingung apa yang mesti saya tulis di sini.

Mereka bukan siapa-siapa di jagat raya ini. Mereka orang biasa, yang bila berada di antara kerumunan orang tak akan menjadi pusat perhatian. Tapi berbeda jika mereka sudah berada di rumah. Mereka seperti matahari, yang menjadi pusat perputaran planet-planet dalam gugusan bima sakti. Dan kamilah planet-planet itu.

***

Sebelum saya dipindahkan ke SDIT pada kelas 2 SD, saya bersekolah di SD Islam As Salafy. Namanya saja ada embel-embel “Islam”. Tapi nilai-nilai yang ditanamkan, layaknya di sekolah biasa. Nilai-nilai kebaikan standar. Malah, aneh betul kayaknya tiap orangtua murid dan guru memperhatikan saya lantaran saya memakai jilbab dan seragam sekolah yang lebih panjang dari yang lain. Seolah-olah ada yang salah dengan saya.

Ya, saya memang berbeda di antara sekian ratus siswa di sekolah itu. Mata murid-murid melirik, bertanya-tanya; kenapa pakai jilbab ke sekolah? Bukankah pakai jilbab kalau kita ke TPA saja? Apalagi kalau Ummi datang ke sekolah. Wah mencuri perhatian betul itu. Karena Ummi memakai gamis dan jilbab lebar lengkap pula pakai kaus kaki walaupun alas kaki yang digunakan cuma sandal jepit swallow. Kalau Ummi menambah pakaiannya dengan cadar, mungkin mata-mata itu bukan menatap atau melirik lagi. Tapi melotot. Sebaliknya, guru yang pakai jilbab dengan rok sepan sedengkul tidak dianggap aneh.

Mungkin itu perasaan ‘berbeda’ yang saya rasakan pertama kali dengan amat jelas. Pada kenyataannya memang keluarga kami berbeda dengan para tetangga. Tapi jangan salah, berbeda bukan berarti lantas kami menutup diri. Walau Ummi adalah orang yang tidak banyak omong, tapi Ummi ramah pada tetangga. Para tetangga menganggap keluarga kami mungkin keluarga santri atau setidaknya paham agama. Sehingga para orangtua mengirim anak-anaknya ke rumah kami untuk belajar mengaji.

Saya lupa bagaimana dulu orangtua saya menjelaskan pada saya dan adik-adik yang perempuan tentang jilbab. Seingat saya, kelas 1 SD itu saya sudah rutin memakai jilbab kalau keluar rumah. Walaupun baju yang saya kenakan tidak menutup seluruh aurat. Saya kecil kerap memakai baju tidur sedengkul-lengan-pendek, tapi berjilbab, berlari-larian main petak jongkok dengan anak-anak sebaya. Yang saya ingat dulu, Abi seringkali berteriak meledek saya kalau kedapatan saya tidak mengenakan jilbab. Ia memanggil saya begini; “Hei, Ahmad!”

Sebagai anak perempuan kecil, saya ogah diasosiasikan sebagai lelaki.

***

Di rumah kami ada barang yang baru kami punyai ketika saya SMP, yaitu televisi. Sebelumnya, kami tak mengenal baik benda itu. Pernah punya tivi, tapi tidak lama karena tivi yang kami punya masih hitam putih, tivi tahun 60-an dengan gambar yang kruwek-kruwek. Bentuknya juga antik, udah ga jaman banget di tahun 90-an itu; kotak kayu, dengan tombol-tombol untuk pindah channelnya di sisi kanan. Kacanya pun cembung bukan main. Tivi ini juga cuma bisa menangkap dua stasiun; TVRI dan TPI. Yah, mana ada yang mau berlama-lama menonton dengan tivi butut—sementara pada saat itu sudah eranya tivi berwarna dan ber-remote control?

Entah apa memang orangtua kami asli tidak mampu membeli tivi baru atau memang mereka punya prinsip sendiri soal tivi. Tapi yang jelas, tak mudah meminta tivi baru. Jangankan itu, meminta dibelikan mainan baru atau sesuatu yang sedang ngetrend saat itu di dunia anak-anak pun, kami mesti susah-susah mengajukan ‘proposal’ (berupa rengekan yang bisa berujung pada tangisan) apa manfaat barang itu bagi kami.

Ketika lagi trend koleksi kertas surat, hampir seluruh teman sekelas saya yang perempuan punya itu. Begitu juga teman sekelas adik saya. Demam kertas surat melanda satu sekolah (saat itu saya sudah sekolah di SDIT IQRO’). Rasanya, saya saja di kelas yang tidak punya koleksi semacam itu. Saya cuma menonton bagaimana teman-teman saya mengatur kertas-kertas surat nan wangi itu, mengeluarkannya dari map, menjejerkannya di meja, menumpuknya dengan rapi, memasukkannya lagi ke map, lalu mengulang ritme yang sama setiap ada kesempatan sembari bercerita ini beli di mana atau menukar dengan siapa.

Begitu juga saat demam stiker tokoh-tokoh kartun. Saya menjadi penonton. Atau ketika demam koleksi kertas file bergambar. Saya pun tidak punya itu. Atau (lagi) ketika demam pulpen gantung bak wartawan yang tintanya wangi, saya juga tidak punya itu. Saya berbeda. Dan kala itu, perasaan berbeda bukan lagi perasaan pertama, tapi ke sekian kalinya.

Ingin juga sih punya itu semua. Yah saya kan anak kecil biasa yang suka iri melihat milik teman. Tapi meminta pada orangtua itu semua, butuh energi untuk menjelaskan; sebenarnya untuk apa barang-barang itu? Dan orangtua kami, menanyakan hal tersebut bukan untuk basa-basi. Kalau memang kami tidak bisa menjelaskan alasan kenapa kami ingin barang-barang tertentu, mereka tidak akan memberikannya. Mau sampai nangis guling-guling di tanah pun, orangtua kami tidak akan mencabut kata-katanya. Belakangan, saya tahu sebenarnya hati Ummi sakit melihat anaknya meminta sesuatu sampai menangis apalagi sampai guling-guling di lantai. Tapi memang harus ada sakit yang tertanggung untuk sebuah kebaikan.

Ummi ataupun Abi tidak menurunkan posisi tawar demi melihat kami ngamuk sampai guling-guling. Mereka tidak lantas bilang: “Ya deh, ya deh… Abi belikan nanti…” Bagi mereka, kami tidak boleh belajar ‘menangis untuk mendapatkan sesuatu’.

Ketika sudah tenang dari isak tangis dan amukan, barulah ada kata-kata yang mampu meluluhkan hati.

“Bukannya ga boleh punya kertas file. Boleh-boleh aja, tapi kan tadi Ummi nanya; buat apa? Kalo cuma untuk dikoleksi, apa nggak buang-buang uang? Padahal kamu tuh butuh barang lain yang lebih penting. Coba aja liat besok. Pasti besok temen-temen kamu udah bosen sama kertas file. Ganti lagi koleksi yang lain. Dulu juga begitu kan? Semuaaaa punya kertas surat. Tapi lama-lama temen-temen kamu bosen sama kertas surat. Terus ganti sekarang ganti kertas file. Terus dikemanain kertas suratnya? Jadi bungkus cabe? Apa disimpen aja? Apa iya kertas suratnya dipake buat kirim surat ke temen?”

“Tapi kan semua temen punya, masa aku ga punya…”

“Udah, santai aja. Ga ditangkep polisi kok kalo ga punya kertas file…”

Saya yakin, orangtua saya tidak paham teori gelombang otak yang katanya, kalau ingin mendoktrin anak itu paling baik saat otak berada dalam keadaan tenang antara sadar dan tidak. Tapi memang, orangtua saya biasanya mendiamkan dan tidak memberikan wejangan apa-apa saat kami-kami ini mengamuk. Nasehat baru keluar ketika sudah capek menangis dan guling-guling, sementara otak mengirim sinyal ke mata agar mengantuk.

Rasanya, orangtua saya juga tidak berkata; “Nanti kalau Abi ada rezeki, Abi belikan ya kertas suratnya…”

Logis sih, karena bisa jadi ketika Abi ada rezeki, barang yang saya mau (misalnya kertas surat wangi dan bergambar indah itu) sudah tidak ngetrend lagi untuk dijadikan koleksi. Punya tapi telat, kan rasanya ketinggalan jaman banget. Dan memang trend itu begitu. Berubah dengan cepat seiring cuaca.

Ketika Abi ada rezeki, yang Abi belikan pada kami adalah buku. Macam-macam buku dan majalah. Kami juga berlangganan majalah anak-anak Aku Anak Saleh dan Orbit, di samping berlangganan koran Republika. Kami punya setumpuk koleksi kisah nabi-nabi terbitan Rosda Karya yang nama belakang penulisnya saya ingat “Pamungkas”. Saya ingat nama belakangnya saja, karena dulu saya pernah bertanya pada Ummi: “Pamungkas itu artinya apa, Mi?” Ummi jawab: “Terakhir”. Saya ngomong lagi: “Berarti dia anak terakhir dong, Mi?” Ummi jawab: “Iya. Bisa jadi…”. Itu sekedar intermezzo.

Jadi rasanya aneh kalau bilang orangtua saya pelit karena anaknya tidak dibelikan ini-itu yang dimau. Karena memang orangtua saya tidak pelit kalau sudah menyangkut hal-hal-yang-memang-kami-butuhkan-bukan-sekedar-keinginan. Saya ingat, Ummi bahkan pernah menjual cincin satu-satunya agar saya dan Rusyda (adik saya) bisa ikut acara kemah dari sekolah. Acaranya selama tiga hari dan banyak perlengkapan yang harus dibawa. Di saat yang bersamaan, Ummi dan Abi tidak punya cukup uang untuk biaya kemah tersebut. Maka Ummi pergi pagi-pagi ke Pasar Pondok Gede, menjual satu-satunya cincin miliknya yag polos tanpa ukiran dan permata sebagai hiasan, dan pulang ke rumah membawa pula barang-barang yang kiranya kam perlukan selama kemah.

Saya tahu kemudian Ummi menjual cincinnya untuk kami, ketika saya dapati pulang dari pasar Ummi tidak memakai cincin itu lagi. Padahal, cincin itu adalah ciri khasnya. Selalu ada di jari manis kanannya. Sehingga janggal sekali bila mendapati Ummi tanpa cincin emas polos itu.

Peristiwa sederhana ini yang kemudian selalu ingatkan saya; bahwa orangtua kami yang sederhana ini, sebetulnya kaya. Mereka punya banyak stok kesabaran untuk mendidik kami secara konsisten. Mereka punya banyak stok keikhlasan untuk tidak mengungkit apa yang telah mereka lakukan. Mereka punya banyak stok harapan untuk melihat kami menjadi ‘seseorang’ bukan ‘seonggok’.

Hikmah besar di balik ‘kepelitan’ mereka untuk tidak selalu memberikan apa saja yang kami minta; kami belajar menghargai apa saja yang mereka berikan. Kami masih menyimpan boneka yang Ummi belikan ketika kami masih kecil. Jarang-jarang kan Ummi belikan kami boneka? Jadi begitu Ummi memberikan boneka pada kami, boneka itu kami jaga baik-baik. Kami pajang di lemari. Begitu juga buku-buku dari masa kecil kami. Belakangan, kami sumbangkan buku-buku itu untuk taman bacaan dekat rumah.

Bukan hanya pemberian berupa barang, tapi juga momen-momen bepergian yang jarang kami lakukan. Sekalinya kami pergi bersama, walau itu hanya makan bersama di warung tenda pinggir jalan, kami benar-benar menikmatinya dan mengabadikannya dengan cara kami. Yang rajin menulis buku harian, menulis di buku hariannya. Yang senang menggambar, menggambarkan apa saja yang dilihatnya selama pergi bersama.

Coba kalau orangtua kami ‘murah hati’. Kami nangis sedikit, maka datanglah apa yang kami minta. Bisa jadi lambat-laun kami tidak menghargai apa-apa yang orangtua kami berikan karena saking seringnya menerima pemberian dari orangtua kami. Alih-alih berterimakasih, mungkin kami akan protes; “lho kok yang begini? Kan aku minta yang begitu!”. Dengan selektifnya orang tua kami dalam memberikan sesuatu, secara tak langsung kami belajar bagaimana harus berterimakasih dan menghargai pemberian orang lain.

Selain itu, ke-konsisten-an mereka untuk menolak membelikan sesuatu yang manfaatnya kecil, membuat kami belajar setiap kali ada benda yang kami inginkan. Kami belajar menganalisis sendiri, apakah benda itu kemudian layak kami miliki? Kalau tidak, sudahlah lupakan benda itu.

Lalu, adakah kemudian di saat dewasa dan punya penghasilan sendiri, saya dendam untuk memiliki benda-benda yang tak sempat saya miliki di waktu kecil? Untungnya tidak. Sebabnya karena itu tadi, kami senantiasa diajak menganalisis; apakah benda yang saya inginkan ini bermanfaat? Bahkan sampai sekarang, kalau saya punya uang sendiri dan mau beli sesuatu, Ummi pasti menodong dengan pertanyaan; buat apa?

Pernah juga terbersit; Kok Ummi gitu sih? Selalu tanya buat apa. Ini kan uangku sendiri!

Tapi entah bagaimana, ujung-ujungnya saya berpikir ulang; apa manfaat benda itu untuk saya? Dan urung untuk membeli benda tidak penting itu. Mungkin karena saking kuatnya doa Ummi, sampai-sampai saya selalu tidak bisa membantah apa kata Ummi. Walau awalnya membantah, selalu saja berakhir dengan gumaman pada diri sendiri; iya ya, bener juga.

***

Karena kami keluarga sederhana, imbasnya bukan saja susah kalau mau meminta sesuatu. Tapi juga berimbas dari desain rumah kami yang sederhana. Ruangan yang disekat hanya kamar tidur dan kamar mandi. Ruang tamu, ruang tengah, ruang makan menyatu tanpa sekat. Tidak ada lantai dua. Kamar pun hanya tiga; kamar orangtua, kamar anak perempuan, dan kamar anak laki-laki. Tagline untuk rumah kami; ke kanan nyenggol, ke kiri nyenggol.

Hikmahnya punya rumah dengan desain nge-blong begini adalah adanya kontrol yang maksimal di antara anggota keluarga. Kalau ada satu anak yang lagi suram, seisi rumah akan segera tahu karena pas sembunyi di kamar, eh saudara yang lain masuk kamar (yang memang nggak ada kuncinya) terus melihat saudaranya yang satu ini lagi menangis. Melaporlah si saudara yang lain ini pada Ummi; “Mi, Kak Anu nangis di kamar…” Nanti kata Ummi; “Husss… udah diemin dulu…”

Walaupun begitu, Ummi dan Abi menghargai privasi kami. Mereka tidak pernah membuka-buka laci kami tanpa keperluan. Mereka percaya sekali, bahwa satu sama lain di antara kami akan saling mengingatkan kalau misalnya ada suatu barang yang bermasalah. Kan kalau barang itu disembunyikan, artinya barang itu bermasalah. Misalnya saja saya menyembunyikan coklat. Tidak perlu menunggu besok, adik saya yang lain sudah akan menemukannya di hari yang sama. Dan coklat itu memang barang yang bermasalah karena tidak dibagi.

Masih soal kontrol di antara anggota keluarga, semua ruangan yang bermuara di ruang tengah ini juga membawa keuntungan tersendiri bagi Ummi dan Abi. Mereka jadi mudah mengontrol aktivitas kami. Cukup duduk di ruang tengah, maka akan terlihat si Asiah lagi apa, Rufaida lagi apa, Hania lagi apa, dan yang lainnya. Selain itu, juga jadi mudah melihat siapa yang sudah sesore ini belum pulang ke rumah.

Sosialisasi pun tak perlu membuang energi banyak. Misalnya, merutinkan mengaji setiap habis maghrib. Tak perlu menggedor setiap pintu kamar sambil bilang: “hoi, ngaji!”. Sekali lagi, duduklah Ummi di ruang tengah sambil bilang; “ayo, ayo ngaji…” kemudian Ummi dan Abi mengaji di ruang tengah. Yang tadinya urung mengaji, jadi malu sendiri karena seisi rumah mengaji. Begitu juga kebiasaan berdiskusi di rumah kami. Ummi dan Abi jarang berdiskusi hanya berdua di kamar—kecuali kalau hal yang mereka diskusikan bukan menjadi urusan kami. Mereka terbiasa membaca buku, menghafal Qur’an, hadits, juga berdiskusi—dari soal agama, politik, sosial, sampai ekonomi—di ruang tengah. Mau tak mau, kami jadi ikut mendengar dan terbiasa dengan iklim itu.

Abi dan Ummi juga biasa menceritakan apa yang mereka alami hari itu kepada kami semua. Walau mungkin sebenarnya menceritakannya hanya kepada Abi atau Ummi. Tapi apa mau dikata, mereka bercerita di ruang tengah. Kami juga jadi ikut-ikut dengar, lalu nimbrung, lalu ikut-ikutan bercerita. Lama-lama kami pun biasa saling bertukar pengalaman di ruang tengah. Entah sambil makan, atau sambil belajar.

Orangtua kami tidak memaksakan terbangunnya suasana akrab. Mereka tidak memaksa diri mereka untuk nyambung dengan dunia kami. Suasana akrab itu terbangun karena kebiasaan yang sudah lama dibiasakan sejak kami masih kecil; saling terbuka dan bercerita. Rasanya kok aneh saja kalau tidak cerita ke Ummi. Sehingga keresahan-keresahan yang kami rasakan—terlebih yang berhubungan dengan identitas kami sebagai muslim/ah yang mencoba ber-Islam secara kaffah—akan tercetus begitu saja, tanpa perlu ragu menceritakannya pada orangtua.

***

Kalau memutar kembali memori, sepertinya orangtua kami tidak terlalu repot menjebloskan kami untuk aktif dalam tarbiyah. Pemahaman kami akan pentingnya tarbiyah, tidak dipupuk dalam sehari langsung jadi. Di rumah sederhana kami, permasalahan ummat menjadi tema diskusi asyik. Dari diskusi ke diskusi, kesadaran kami akan pentingnya tarbiyah menjadi tumbuh sendiri. Pada awalnya malas datang ke tempat liqo. Kan bisa belajar aja sama Ummi, bantah kami. Tapi Ummi bilang, di rumah belajar juga, di luar belajar lebih banyak lagi. Tidak tanggung-tanggung, saya dan Milla sempat merasakan bagaimana Abi benar-benar amat memaksa kami sampai-sampai kami diantar ke tempat liqo, dan ditunggui pula sampai liqo selesai.

Kesannya, Abi kok kayak ga punya kerjaan lain aja selain nganterin anak liqo dan nungguin. Tapi pemaksaan serupa itu, membuat kami mencerna sendiri; berarti liqo itu emang penting banget ya, sampe-sampe Abi mau nganter dan nungguin aku…

Kami juga tidak lepas dari badai keinginan ingin pakai celana panjang dan jilbab agak naik sedikit. Keresahan itu kami ungkapkan pada Ummi; “kok si Anu pakai bajunya begitu, Mi. Aku boleh ga pakai baju kayak dia? Abis kemaren aku ke sekolah pakai rok dibilangnya kayak ibu-ibu…”

Nah lho… kalo saya jadi Ummi, saya bingung juga mau nasehatin kayak apa.

Ummi pada awalnya membolehkan kami memakai celana panjang asal longgar. Jilbab juga yang penting menutup dada, tidak perlu sampai lewat pinggang. Tapi kok ya baju yang dibelikan Ummi pada kami lagi-lagi rok. Ya apa boleh buat. Toh roknya juga not bad kok. Dan Ummi sekali waktu bilang: “perempuan itu lebih anggun tau kalo pake rok…” agak membesarkan hati sedikit. Tapi kemudian di sekolah, dikomentarin teman lagi: “Perasaan lo pake rok terus deh, sekali-kali dong pake celana panjang… gue pengen deh liat penampilan lo pake celana panjang…”

Komentar teman seperti di atas selalu bikin ciut. Untung kami punya Ummi. Lagi-lagi lapor ke Ummi, teman komentar begini, begitu. Ummi akan bilang: “ga usah didengar… Mereka memang selalu berkomentar. Orang itu kalau mau jadi lebih baik memang cobaannya banyak. Kalau kamu ciut hanya karena komentar begitu, sekarang bayangin jaman dulu waktu jilbab belum zamannya, perempuan yang pakai jilbab dijauhi orang, disangka aliran sesat, bahkan ada yang diusir dari rumah… Padahal perintah pakai jilbab itu ada di Al Qur’an, tapi malah dihina…”

Cerita-cerita itu membuat kami merasa tidak sendiri. Lagipula, kami biasa berbeda. Kami tidak tinggal di tengah-tengah keluarga tarbiyah yang lain. Kami tinggal di kampung yang tingkat pendidikan masyarakatnya rendah sampai-sampai anak kecil diajarkan buang air di kebun-kebun. Sampai-sampai pula, keluarga kami dicap orang Muhammadiyah yang kalo mens pun perempuan tetap sholat, dan kalau ada yang meninggal tidak disholatkan. What? Kayaknya orang Muhammadiyah ga gitu deh…

Jadi, menjadi berbeda di sekolah atau di antara teman sepermainan, adalah menambah sedikit daftar perbedaan kami. Orangtua selalu membesarkan hati kami lewat cerita dan diskusi. Bahwa menjadi berbeda itu sama sekali tidak buruk. Untungnya, nasehat ini tidak serta merta muncul ketika kami puber, di mana kami sudah kenal ‘dunia luar’. Mungkin karena Ummi saya tidak sibuk, dan Abi juga tidak sibuk dalam pekerjaan, jadi kami tidak mengalami missing age di mana ada kalanya kami jauh dari Ummi dan Abi. Mereka benar-benar orang terdekat kami dan teman sejati kami; orang-orang pertama yang kami hampiri ketika ada keresahan dan pertanyaan. Dan saya yakin betul, kedekatan ini tidak dibangun dalam hitungan hari, tapi hitungan tahun; sejak saya masih kecil, hingga kini umur saya menginjak 24 tahun.

***

Tidak ada hal khusus yang diterapkan orangtua kami untuk mendidik kami. Tidak ada buku parenting bertumpuk-tumpuk. Mereka tidak hapal teori psikologi pendidikan. Bahkan mungkin tidak tahu juga ada teori itu. Mereka juga tidak rajin ikut seminar-seminar parenting. Mereka terlampau sederhana untuk itu semua. Mereka mendidik kami dengan ilmu yang mereka punya ditambah dua hal saja: kontinyu dan konsisten. Kontinyu dalam hal mengingatkan, menasehati, dan mencontohkan. Konsisten dalam hal sekali bilang tidak maka tidak; tidak ada prinsip yang berubah.

Seperti matahari pada gugusan bima sakti, mereka terus menyinari, terus menjadi pusat kehidupan kami, tak bosan, tak lelah.

-(Al-Hafizh)-

Ini Jelas Bukan Pesan Untuk Istriku.....

Jumat, 09 Desember 2011



Renungan Buat Sang Istri

Wahai sang Istri ....

Apakah akan membahayakan dirimu, kalau anda menemui suamimu dengan wajah yang berseri, dihiasi senyum yang manis disaat dia masuk rumah.? Apakah memberatkanmu, apabila anda menghapus debu dari wajahnya, kepala, dan baju serta mengecup pipinya.?!! Apakah anda akan merasa sulit, jika anda menunggu sejenak disaat dia memasuki rumah, dan tetap berdiri sampai dia duduk.!!! Mungkin tidak akan menyulitkanmu, jika anda berkata kepada suami : Alhamdulillah atas keselamatan Kanda, kami sangat rindu kedatanganmu, selamat datang kekasihku. Berdandanlah untuk suamimu -harapkanlah pahala dari Allah di waktu anda berdandan itu, karena Allah itu Indah dan mencintai keindahan- pakailah parfum, dan bermake up-lah, serta pakailah busana yang paling indah untuk menyambut suamimu. Jauhi dan jauhilah bermuka asam dan cemberut. Janganlah anda mendengar dan menghiraukan perusak dan pengacau yang akan merusak dan mengacaukan keharmonisanmu dengan suami. Janganlah selalu tampak sedih dan gelisah, akan tetapi berlindunglah kepada Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah. Janganlah berbicara terhadap laki-laki lain dengan lemah-lambut, sehingga menyebabkan orang yang di hatinya ada penyakit mendekatimu dan mengira hal-hal yang jelek terhadap dirimu. Selalulah berada dalam keadaan lapang dada, hati tentram, dan ingat kepada Allah setiap saat. Ringankanlah suamimu dari setiap keletihan, kepedihan dan musibah serta kesedihan yang menimpanya. Suruhlah suamimu untuk berbakti kepada ibu bapaknya. Didiklah anak-anakmu dengan baik. Isilah rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, perbanyaklah membaca Al-Quran terutama surat Al-Baqarah, karena surat itu dapat mengusir syeitan. Bangunkanlah suamimu untuk melaksanakan shalat malam, doronglah dia untuk melakukan puasa sunat, ingatkan dia akan keutamaan bersedekah, dan jangan anda menghalanginya untuk menjalin hubungan siraturrahim dengan karib kerabatnya. Perbanyaklah beristighfar untuk dirimu, suamimu, serta kedua orang tua dan seluruh kaum muslimin. Berdoalah kepada Allah, agar dianugerahkan keturunan yang baik, niat yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah sesungguhnya Rabbmu Maha Mendengar doa dan mencintai orang yang nyinyir dalam meminta. Allah berfirman:Dan Rabbmu berkata : serulah Aku niscaya Aku penuhi doamu (Al-Ghafir : 60). Diambil dari kitab Fiqh pergaulan suami istri oleh Syeikh Mushtofa Al Adawi.
BY: F.S

kata2 yg membangkitkan semangat dan menginspirasi....mdh2n manfaat...!



Fokus pada apa yang anda kerjakan. Satu pekerjaan, satu waktu! Sulit kalau anda melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan. Sebab fokus anda akan terbagi. Mulai dari tugas prioritas anda. Pusatkan perhatian dan konsentrasi anda untuk mengerjakan pekerjaan tersebut sebaik-baiknya. Jangan berpindah ke pekerjaan lain sebelum selesai. Ingat, fokus!

Di setiap kegagalan pasti mengandung nilai pendidikan. Dan orang-orang gagal yang berani menatap setiap kegagalannya dengan kepala tegak, siap belajar dan berusaha, belajar dan berusaha lagi, bangkit dan bangkit lagi, adalah mereka yang telah siap menjadi dewasa dan sukses secara utuh.

Dalam hidup, terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Dan ketika mendapatkan apa yang kita inginkan, kita sering menyadari bahwa yang kita inginkan terkadang tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih bahagia.

Sesuatu akan terasa sangat berharga ketika sudah tidak berada di sisi kita. Jangan sia-siakan apa yang sudah menjadi milik kita.

Berbuat baiklah selama kita masih bisa, sayangilah orang-orang yang ada di sekitar anda, karena tak ada yang tahu usia seseorang, tak ada yang tahu kapan kita dipanggil oleh-Nya...

Prinsip tabur benih ini berlaku dalam kehidupan. Pada waktunya anda akan menuai

yang anda tabur. Bayangkanlah, betapa kayanya hidup anda bila anda selalu menebar benih ‘kebaikan’. Tapi sebaliknya, betapa miskinnya anda bila rajin menabur keburukan.

Petarung yang jatuh bukan berarti pasti kalah, namun petarung yang tidak mampu bangkitlah yang kalah dalam pertandingan. Anda akan mengalami kegagalan dalam hidup, itu pasti! Tapi kegagalan bukan akhir dari segalanya, selama anda bisa bangkit kembali!

Jauhilah kebiasaan menggunjing, karena menyebabkan tiga bencana: pertama, doa tak terkabul. Kedua, amal kebaikan tak diterima. Dan ketiga, dosa bertambah

Ketika anda mengalami sebuah kegagalan, ingat bahwa ada pelajaran yang anda petik, dan itu membuat anda selangkah lebih maju mendekati kesuksesan anda.

Masalah akan selalu ada dalam hidup anda. Semakin sulit masalah anda, anda akan semakin pintar mengatasinya. Hidup akan lebih bermakna selama anda bisa mengatasi masalah, bukan lari dari masalah.

Apa yang anda bangun dengan berlandaskan nilai kebenaran, tidak akan pudar meskipun banyak tantangan dan halangan. Anda akan bisa mencapai tujuan dengan melewati semua rintangan. Dan apa yang anda bangun tidak akan mudah runtuh.

Pikirkanlah apa saja yang paling penting, dan dahulukanlah. Jangan biarkan hidup

anda terjebak dalam hal-hal yang tidak penting sementara hal-hal yang penting

terabaikan. Mulailah memilah-milah mana yang penting dan mana yg tidak, kebiasaan mendahulukan yang penting akan membuat hidup Anda efektif dan produktif.

Keberhasilan bukan hanya karena perjuangan, tapi juga karena kegigihan anda berdoa!!!!!

dikutip dari kumpulan status joko susilo

Hujan....hujan...ia sangat menantimu



Ia amat menanti datangnya hujan, rintiknya pun tak apa.., ia amat menanti datangnya hujan tapi bukan badai besar yang bisa memporak-porakpandakan bumi. Kilatan petir dan Gelegarnya kadang membuatnya takut, tapi itu bukan gangguan baginya untuk menanti bahkan menyukai datangnya hujan
Hujan selalu membuat hatinya teduh, dan luluh. Namun hujan juga selalu membuatnya merasa rapuh. Hujan menguasai dirinya hingga ke dalam relung rasa.

Kala awan mendung datang mendekat untuk datang, maka ia akan bergegas menyelesaikan apapun yang sedang dikerjakannya, Kemudian ia akan menunggu hujan turun, mengharap dari balik jendela, atau terang-terangan memancing hujan dengan menatap langit sambil tersenyum mengundang.

Ia begitu menikmati hujan. Baginya, hujan adalah hidupnya. Hanya kala hujan ia punya waktu menikmati segalanya. Bau tanah basah, bau rumput yang tiba-tiba terasa manis, musik nyaring yang dimainkan air saat memukul atap tanah, daun dan payung-payung orang yang berlalu lalang.

Ia tidak seperti orang lain. Ia tak akan terburu-buru hanya karena tetesan air menghujami bumi. Ia tak akan berlari menghindari gerimis. Ia akan menikmati gerims, membaui sedapnya, merasakan beningnya, bisa berdekatan dengan hujan.

Dan ia akan lebih menikmati hujan, kala tengah sendiri. Torehan jejak di jendela, yang terlukis, terhapus dan terlukis lagi seakan memberi pertunjukkan tanpa henti untuknya. Mata dilayani jutaan aktor berupa butiran hujan dalam pentas alam. Telinganya disuguhi musik tabuh, berupa melodi rumit dimainkan oleh orkestra cair.

Ah, hujan...hujan....ia sangat menyukaimu...
By : C.A

" Di Balik Fenomena FacebooK "



" Di Balik Fenomena FacebooK " (Rugi Kalau tidak dibaca)

copy paste dari pak tanto

Ketika perpecahan keluarga menjadi tontonan yang ditunggu dalam sebuah episode infotainment setiap hari.

Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu ribuan mata bahkan jutaan dalam berita-berita media massa.

Ketika seorang celebritis dengan bangga menjadikan kehamilannya di luar pernikahan yang sah sebagai ajang sensasei yang ditunggu-tunggu ...’siapa calon bapak si jabang bayi?’

Ada khabar yang lebih menghebohkan, lagi-lagi seorang celebrities yang belum resmi berpisah dengan suaminya, tanpa rasa malu berlibur, berjalan bersama pria lain, dan dengan mudahnya mengolok-olok suaminya.

Wuiih......mungkin kita bisa berkata ya wajarlah artis, kehidupannya ya seperti itu, penuh sensasi.Kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh publik.

Wuiiih......ternyata sekarang bukan hanya artis yang bisa seperti itu, sadar atau tidak, ribuan orang sekarang sedang menikmati aktivitasnya apapun diketahui orang, dikomentarin orang bahkan mohon maaf ....’dilecehkan’ orang, dan herannya perasaan yang didapat adalah kesenangan.



Fenomena itu bernama facebook, setiap saat para facebooker meng update statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya. Lupa atau sengaja hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga, menjadi kebanggaan di statusnya. Lihat saja beberapa status facebook :

Seorang wanita menuliskan “Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya.....?”------kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan perempuan, bahkan seorang lelaki temannya menuliskan “mau ditemanin? Dijamin puas deh...”


Seorang wanita lainnya menuliskan “ Bangun tidur, badan sakit semua, biasa....habis malam jumat ya begini...:” kemudian komen2 nakal bermunculan...


Ada yang menulis “ bete nih di rumah terus, mana misua jauh lagi....”, ----kemudian komen2 pelecehan bermunculan


Ada pula yang komen di wall temannya “ eeeh ini si anu ya ...., yang dulu dekat dengan si itu khan? Aduuh dicariin tuh sama si itu....” ----lupa klu si anu sudah punya suami dan anak-anak yang manis


Yang laki-laki tidak kalah hebat menulis statusnya “habis minum jamu nih...., ada yang mau menerima tantangan ?’----langsung berpuluh2 komen datang


Ada yang hanya menuliskan, “lagi bokek, kagak punya duit...”


Ada juga yang nulis “ mau tidur nih, panas banget...bakal tidur pake dalaman lagi nih”


Dan ribuan status-status yang numpang beken dan pengin ada komen-komen dari lainnya




Dan itu sadar atau tidak sadar dinikmati oleh indera kita, mata kita, telinga kita, bahkan pikiran kita.

Ada yang lebih kejam dari sekedar status facebook, dan herannya seakan hilang rasa empati dan sensitifitas dari tiap diri terhadap hal-hal yang semestinya di tutup dan tidak perlu di tampilkan.


Seorang wanita dengan nada guyon mengomentarin foto yang baru sj di upload di albumnya, foto-foto saat SMA dulu setelah berolah raga memakai kaos dan celana pendek.....padahal sebagian besar yg didalam foto tersebut sudah berjilbab



Ada seorang karyawati mengupload foto temannya yang sekarang sudah berubah dari kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan islami, foto saat dulu jahiliyah bersama teman2 prianya bergandengan dengan ceria....



Ada pula seorang pria meng upload foto seorang wanita mantan kekasihnya dulu yang sedang dalam kondisi sangat seronok padahal kini sang wanita telah berkeluarga dan hidup dengan tenang



Rasanya hilang apa yang diajarkan seseorang yang sangat dicintai Allah...., yaitu Muhammad SAW, Rasulullah kepada umatnya. Seseorang yang sangat menjaga kemuliaan dirinya dan keluarganya. Ingatkah ketika Rasulullah bertanya pada Aisyah r.ha

“ Wahai Aisyah apa yang dapat saya makan pagi ini?” maka Istri tercinta, sang humairah, sang pipi merah Aisyah menjawab “ Rasul, kekasih hatiku, sesungguhnya tidak ada yang dapat kita makan pagi ini”. Rasul dengan senyum teduhnya berkata “baiklah Aisyah, aku berpuasa hari ini”. Tidak perlu orang tahu bahwa tidak ada makanan di rumah rasulullah....



Ingatlah Abdurahman bin Auf r.a mengikuti Rasulullah berhijrah dari mekah ke madinah, ketika saudaranya menawarkannya sebagian hartanya, dan sebagian rumahnya,

maka abdurahman bin auf mengatakan, tunjukan saja saya pasar. Kekurangannya tidak membuat beliau kehilangan kemuliaan hidupnya. Bahwasanya kehormatan menjadi salah satu indikator keimanan seseorang, sebagaimana Rasulullah, bersabda, “Malu itu sebahagian dari iman”. (Bukhari dan Muslim).



Dan fenomena di atas menjadi Tanda Besar buat kita umat Islam, hegemoni ‘kesenangan semu’ dan dibungkus dengan ‘persahabatan fatamorgana’ ditampilkan dengan mudahnya celoteh dan status dalam facebook yang melindas semua tata krama tentang Malu, tentang menjaga Kehormatan Diri dan keluarga.

Dan Rasulullah SAW menegaskan dengan sindiran keras kepada kita

“Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau.” (Bukhari).



Arogansi kesenangan semakin menjadi-jadi dengan tanpa merasa bersalah mengungkit kembali aib-aib masa lalu melalui foto-foto yang tidak bermartabat yang semestinya dibuang saja atau disimpan rapat.

Bagi mereka para wanita yang menemukan jati dirinya, dibukakan cahayanya oleh Allah sehingga saat di masa lalu jauh dari Allah kemudian ter inqilabiyah – tershibghoh, tercelup dan terwarnai cahaya ilahiyah, hatinya teriris melihat masa lalunya dibuka dengan penuh senyuman, oleh orang yang mengaku sebagai teman, sebagai sahabat.

Maka jagalah kehormatan diri, jangan tampakkan lagi aib-aib masa lalu, mudah-mudahan Allah menjaga aib-aib kita.

Maka jagalah kehormatan diri kita, simpan rapat keluh kesah kita, simpan rapat aib-aib diri, jangan bebaskan ‘kesenangan’, ‘gurauan’ membuat Iffah kita luntur tak berbekas.

***********************************************************
Mohon kiranya untuk men-tag ataupun men-sharing artikel ini dengan orang yang Anda kasihi demi kebaikan kita bersama.
Jazakallah khair

Sumber : FTJAI


“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.”( HR Muslim)

Apabila ada kebaikan dalam catatan ini, maka sebaiknya mari kita SEBARKAN untuk dibaca oleh orang yg kita cintai

“Orang yang menyeru (menyuruh/menasehatkan) kepada kebaikan akan memperoleh pahala seperti orang yang mengamalkan seruannya, tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkan sedikitpun. Sebaliknya, orang yang menyeru kejahatan akan mendapatkan dosa seperti orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi dosa orang yang mengamalkannya sedikitpun.” (HR. Muslim)

By:T

Terjaga di Gaza



KotaSantri.com - Nuwaiba - Amman - Gaza. Perjalanan ini begitu melelahkan. Bukan karena jauh dan bosan. Atau karena menguras seluruh keringat yang menetes melalui pori-pori, dibakar matahari musim panas. Tapi, ia muak dengan pemandangan sepanjang jalan, harus turun-naik setiap pos penjagaan tentara-tentara Israel. Surat izin jalan dan paspor adalah barang berharga untuk sampai keperbatasan kota. Kalau tidak karena rindu yang menggelegak bertemu Amru dan negeri ini, ingin ia tunda. Entah keberapa kalinya ia dan para penumpang bus ini harus turun untuk pemeriksaan.

"Turunlah cepat, semoga Allah menyertai kalian." Kata sopir bus sambil memberi isyarat.
"Hei orang Arab, apa yang kau bawa?" Tanya seorang tentara Israel tegas.
"Buku, ya aku hanya bawa buku!" Ammar menjawab pendek.
"Bawa kopermu sini!" Setengah malas Ammar mendekat. Lalu dengan kasar tentara itu membongkar koper yang disodorkannya. Mereka mencari bahan peledak dan senjata yang kadang disusupkan lewat bus-bus ketika memasuki perbatasan kota.

"Oke, semuanya kembali ke Bus! Jangan pernah coba-coba membawa bahan peledak, pasti kami tahu!" Seringai serdadu itu congkak. Bus kembali menderu panjang membelah jalan setapak berdebu tebal. Sorot tajam serdadu-serdadu itu mengantarkannya menghilang ditikungan.

Roman wajah-wajah penumpang bus ini seperti wajahnya juga. Di selimuti ketakutan yang amat sangat. Perdamaian yang sama-sama mereka serukan ternyata hanya omong kosong, hanya buih-buih tak berbobot dipecahkan oleh keganasan orang-orang Yahudi. No peace for Jewis!.

Hanya sopir tua itu yang terlihat cukup tenang. Sesekali mulutnya bergerak mengucapkan sesuatu, seperti sedang bedzikir.

"Banyak-banyaklah berdoa, semoga Allah selalu bersama kita. Gaza sedang gawat!!" Seru sopir bus itu lantang.

Ammar sudah hampir sepuluh tahun meninggalkan kota Hebron, ia ikut hijrah ke Mesir bersama pamannya. Sedang Amru kakaknya memilih menetap di Palestina. Mereka berpisah beberapa saat setelah kedua orang tuanya tewas dalam insiden pembantaian ekstrimis Yahudi, Baruch Goldstein tahun 1994 di Hebron. Ammar mencintai ilmu pengetahuan oleh karena itu ia mendaftar di Universitas Al-Azhar, menemui beberapa Syaikh di mesjid kampus setiap pagi. Dan pamannya; Aiman, selalu setia membimbingnya untuk terus belajar. Mereka menempati rumah yang cukup indah di barat Kairo, kemana mata memandang tak lepas dari eloknya sungai Nil. Sedangkan Amru, pindah tempat tinggal bersama kakeknya ke kota Gaza.

Hebron tak seperti dulu lagi. Seolah, kemana pun pergi di kota itu tidak luput dari dari sorotan mata pasukan Israel. Melihat ke atas pun, mata langsung bertemu dengan pemandangan pasukan Israel yang berdiri diatas atap rumah penduduk dengan senjata lengkap.

Guratan-guratan lesu terpampampang jelas di wajah para penumpang bus yang sebagain besar diisi oleh orang tua dan wanita. Puing-puing bangunan, bongkahan pondasi rumah-rumah yang berserakan menambah kepenatan siang hari itu. Dan desir angin musim panas ikut menggetarkan suasana batin yang tak menentu. Lalu, apa yang mereka harapkan selain memohon keselamatan kepada Sang Pencipta? Disaat itulah Allah terasa amat dekat dengan mereka. Dekat sekali.

Ammar teringat masa kecilnya di kampung dulu. Bila musim panas tiba, ia dan Amru berebut memanjat pohon Tin di belakang rumah.

"Hati-hati jatuh, nanti kalian tidak bisa sekolah!" Pesan ibunya waktu itu.

O, sekolah tentu barang yang mahal untuk anak-anak Palestina saat ini. Pena dan buku telah berubah menjadi batu dan ketapel. Ammar bersyukur telah diberi kesempatan untuk merasakan bangku kuliah, lain dengan Amru yang otodidak sejati. Mereka jarang bertemu, sekali dua kali saja Ammar pulang ke Palestina. Hanya lewat surat mereka berkirim kabar. abangnya suka bercerita tentang negeri yang kini terjajah, kampungnya yang dihancurkan dan dibangun pemukiman Yahudi Kiryat Arba, tentang perjuangannya bersama Hamas, dan kerinduannya yang menderu-deru untuk menjadi bunga syahid Palestina.

Pos polisi dan bendera-bendera Palestina terlihat samar-samar. Sebentar lagi bus akan memasuki gerbang kota Gaza. Ammar duduk terpekur di bangku pojok halte bus, mobil yang ditumpanginya sudah sejam yang lalu berhenti di antara antrean bus antar kota lainnya. Matanya berputar berkeliling, di pandinginya satu-persatu panorama kota ini. Semua itu hanya meninggalkan luka yang dalam di hatinya.

Sementara itu peledakan terus terjadi di beberapa hunian penduduk Yahudi. Jerussalem, Ashkelon, dan Tel Aviv berturut-turut diguncang bom syahid. Intelijen Israel terus mengejar dalang dibalik aksi-aksi itu, bahkan telah menyebar beberapa mata-mata. Namun selalu saja berhasil lolos.

***

Ammar bergegas keluar dari apartement yang masih setengah jadi itu, bahan peledak yang baru dirakitnya ia masukkan ke dalam ransel. Terburu-buru ia menuruni anak tangga, di bawah sudah menuggu seorang pemuda dengan mobil sedan usang. Mobil tua itu segera berlalu setelah tubuh Ammar benar-benar masuk. Mereka tidak menyadari ada sepasang mata dari tempat pembuangan sampah sedari tadi memperhatikan keduanya.

"Aku melihatnya dekat apartement yang belum jadi kapten, Aku yakin dialah orangnya. Wajahnya persis yang ada di photo." Kata pemulung sampah itu meyakinkan.
"Yang betul kamu, jangan bohong!!" Jawab kapten David tak percaya. Kulit wajahnya yang bule seketika memerah.
"Sumpah kapten! Saya melihatnya berdua dengan pemuda yang ikut konvoi dengan Hamas." Orang itu dengan semangat bercerita.
"Oke, aku percaya. Tapi kau harus terus cari tahu dimana tempat-tempat ia berada."
"Ini upahmu setengah dulu, kalau kau beri kabar lagi aku bayar semuanya." Imbuh kapten David sambil menyodorkan beberapa lembar uang.
"Kapten, ini masih kurang!"
"Sudah pergi sana, Arab tengik!!!"

Dengan perasaan agak dongkol pemulung sampah itu berlalu dari hadapan kapten David. Sumpah serapah muncul begitu saja dari mulutnya, hati kecilnya menolak perbuatan ini. Tapi, uang telah membunuh semangat nasionalisnya.

***

Ismail pengemudi sedan tua itu, cekatan membelok-belokan mobilnya menembus gang-gang kecil di pinggiran kota Gaza. Ia berusaha menghilangkan jejak dari intaian mata-mata Israel.

"Ammar, bukankah hari ini adikmu akan datang dari Mesir?" Tanya Ismail tanpa menoleh sedikit pun.
"Itulah yang menjadikan aku senang dan sekaligus cemas."
"Intel-intel Israel telah menyebar mata-matanya, aku agak kesusahan untuk bertemu dengannya." Jawab Amru datar.
"Tenang akhi, aku bisa membantumu. Akan aku atur pertemuan ini tanpa harus takut dengan mata-mata murahan itu." Kata Ismail lirih.
"Ya, tentu saja aku sangat percaya denganmu. Tapi, dimana tempatnya?"
"Aku ada usul kita bertemu di mesjid Al-Jihad samping rumahku, tempatnya tenang." Seru Ismail, kini suaranya meninggi.
"Oke, aku setuju. Tapi, aku minta tolong jemput adikku di halte bus, aku masih ada tugas di pasar Khan Yehuda." Ucap Amru.

Ismail mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia mengenal Amru sebagai perakit bom handal di brigade kecil Hamas. Yang menjadikannya cinta kepada Amru, karena pemuda ini selalu mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan makhluk yang bernama kematian. Ia sering mendapati Amru terisak membaca mushaf kecilnya, dan wangi Misq selalu menempel dipakaiannya. Entah hanya itukah yang ia persiapkan?

"Turunkan aku di depan! Sampai ketemu lagi akhi, assalamu'alaikum." Pinta Amru kepada Ismail.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati, semoga Allah bersamamu."

***

Adzan Isya baru saja usai berkumandang, ketika pesawat heli Apache berkeliling mengintai. Heli buatan Amerika ini dikenal pemburu nomor satu, tidak seperti biasanya malam-malam begini berputar membentuk angka delapan. Ini membuat sebagian penduduk kota Gaza menerka-nerka apa yang akan terjadi.

Di dalam mesjid dua orang pemuda tampak berpelukan erat. Amru dan Ammar dua pemuda itu. Mereka tampak senang bisa berjumpa kembali disaat-saat darurat seperti ini. Rindu yang selama ini dipendam lebur dalam kekhusyuan jamaah shalat Isya.

"Baiklah Ammar, engkau istirahat dulu saja dirumah sahabat kita Ismail. Engkau akan aman bersamanya. Tentu, aku akan mendatangimu lagi. Mata-mata terus mengintai keberadaanku. Ini mushaf kecilku, peganglah! Jangan lupa dibaca! Assalamu'laikum." Begitu pesan Amru kepada Adiknya.
"Wa'alaikumussalam. Aku akan menunggumu, Kak. Aku akan selalu memdoakanmu." Jawab Amar.

Amru segera berlalu keluar mesjid, diantar dengan pandangan Ammar yang masih tertegun. Jamaah shalat Isya tinggal beberapa orang saja, sebagian sudah pulang. Karena malam pun beranjak larut. Bergegas Amru memasuki mobil Jeep abu-abu. Rupanya ia sudah ditunggu dua orang pemuda berbadan tegap.

"Wuss!! Wuss!!"
Tiba-tiba saja dua peluru raksasa melesat dari langit Gaza memburu Jeep abu-abu itu.

"Bum!!! Bum!!!" Dua dentuman menggelegar di bumi. Mobil Jeep porak-poranda juga penumpangnya. Suasana gaduh tiba-tiba pecah di malam yang tadinya sepi itu.

"Allahu Akbar!! Allahu Akbar!!" Orang-orang berlarian datang untuk menolong, tapi mereka hanya menemukan kobaran api, kepingan besi, dan serpihan daging disertai bau amis darah. Yel-yel anti Yahudi menggema lagi. Seruan intifadhah bertalu-talu di seantero negeri.

Di pelataran mesjid Ammar menangis, meraung sambil memeluk tubuh kakaknya yang sudah hancur. Ia temukan di wajah yang menghitam itu senyum tipis. Untuk sekian kalinya bidadari-bidadari turun lagi di langit Palestina. Mereka berebut, seraya menaburkan bunga padma.

Muhammad Yasin - YayanSuryana
Referensi : Rab'ah El Adawea, Musthafa Abd. Rahman.
*Cerpen ini sudah diterbitkan bersama antologi FLP Mesir "Kado Untuk Mujahid".

quantum ikhlas



Bismillah...

Apa yang dimaksud dengan Quantum, menurut para ilmuwan Quantum bahwa di dunia energi yang terhalus yang "tak tampak" wujudnya berlaku hukum yang berbeda dengan dunia benda yang "tampak", di level Quantum sebenarnya tidak ada benda yang padat. Semua benda di dunia pada dasarnya terbuat dari "ruang hampa". Para ilmuwan Quantum ini meneliti apa sebenarnya yang terjadi ketika sebuah benda di belah terus-menerus hingga ke tingkat materi yang sangat kecil. Dan materi terkecil itupun terus dibelah lagi dengan alat pemecah atom sampai tak terlihat hingga berubah menjadi energi yang terhalus.

Apabila kita ingin sukses dan mendapatkan apa yang kita inginkan, seharusnya kita fokus pada apa yang kita inginkan dan bukan memikirkan bagaimana caranya supaya keinginan kita itu terwujud, kadang kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya agar keinginan kita terwujud, sehingga menimbulkan rasa khawatir di dalam pikiran dan hati kita, apabila kita meminta dan berdoa pada Alloh SWT, kita tinggal:

1. Meminta

2. Menerima (seolah-olah keinginan kita telah tercapai)

3. Pasrah

Nah...sifat pasrah atau Ikhlas ini yang kadang atau seringkali sulit untuk dicapai oleh pikiran dan hati kita, cobalah Anda ingat terakhir kali pikiran Anda merasa cemas atau marah. Saat itu otak kiri dan kanan Anda tidak harmonis (koheren) sehingga perasaan hati Anda pun kacau pekerjaanpun berantakan karena Anda sulit berkosentrasi, pastikan setiap pikiran mempunyai keuntungan tariklah keuntungan dari setiap pikiran Anda, hentikan memproses pikiran yang tidak menguntungkan. mudahkanlah merasakan perasaan tenang dan ikhlas agar mudah mencari gelombang otak ikhlas, karena selama perasaan dihati Ikhlas-rela, tenang, enak dan nyaman-maka hidup anda akan terasa rela, tenang, enak dan nyaman. Dengan positive feeling seperti itu sukses dan performance hanya tinggal masalah waktu. Anda tidak perlu ngoyo mengejarnya, karena ketika anda ikhlas,secara ilmiah alam Vibrasi melalui mekanika Quantum akan berkolaborasi membantu menguatkan doa-doa anda. Karena itu keterampilan untuk mempositifkan perasaan menjadi sangat penting untuk memudahkan terkabulnya doa untuk keberhasilan hidup anda.

Perasaan syukur kepada Alloh SWT atas setiap apa yang kita dapatkan dan kita peroleh sangatlah penting untuk memperoleh hati yang tenang dan ikhlas serta bahagia, semakin sering Anda melatih perasaan syukur seperti ini, semakin berkurang perasaan tidak enak yang biasa terasa menekan di hati. Dengan semakin lapangnya perasaan di hati, kualitas performance Anda akan meningkat lebih baik secara alami--dalam bentuk efisiensi, efektifitas, produktifitas, kreativitas dan sinkronisitas-tanpa harus memaksa diri.

wamayatakillah yaj'alahu makhroja, wayarzuku min haitsu laa yahtasib

siapa yang bertakwa kpd Alloh maka akan diberikan jalan keluar, dan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka2...

wamayatawakal alalloh fahuwwa hasbuh

siapa yang bertawakal kedpada Alloh maka akan dicukupkan...

Sahabat Sang Pahlawan



Anda harus waspada dan berhati-hati! Sebab, disini ada jebakan kepahlawanan yang sering menipu banyak orang. Sahabat para pahlawan belum tentu juga pahlawan. Inilah tipuannya. Para pahlawan mungkin tidak tertipu, tetapi orang-orang yang bersahabat dengan para pahlawanlah yang lebih sering tertipu.

Dalam lingkungan pergaulan, para pahlawan adalah parfum. Apabila berada ditengah kerumunan, maka semua orang akan kecipratan keharumannya. Apabila ada “orang lain” yang mulai mendekat dan mencium keharuman itu, mungkin ia sulit mengenali dari mana keharuman itu berasal.

Situasi ini tentu saja menguntungkan orang-orang yang mengerumuni sang pahlawan. Mendapatkan peluang untuk diduga sebagai pahlawan. Itulah awal mula kejadiannya. Orang-orang biasa selalu merasa puas dengan bergaul dan menjadi sahabat para pahlawan. Mereka sudah cukup puas dengan mengatakan, “Oh, pahlawan itu sahabatku,” atau ungkapan “Oh, pahlawan itu seangkatan denganku.” orang-orang itu tidak mau bertanya, mengapa bukan dia yang menjadi pahlawan.

Akan tetapi, ada “orang biasa” yang mempunyai sedikit rasa megaloman, semacam obsesi kepahlawanan yang tidak terlalu kuat, namun ada dan meletup-letup pada waktu tertentu. Orang-orang seperti ini sering merasa telah menjadi pahlawan hanya karena ia bersahabat dengan para pahlawan. Dan karenanya, sering berperilaku seakan-akan dialah sang pahlawan.

Yang kita saksikan dalam kejadian ini adalah suatu proses identifikasi “orang biasa” dengan sahabatnya yang “pahlawan”. Ini merupakan tipuan jiwa: seseorang tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan para pahlawan, tetapi mau menyandang gelar kepahlawanan, dengan memanfaatkan kamuflase persahabatan.

Persahabatan memang sering menipu, bukan karena tabiat persahabatan yang memang menyimpan tipuan, tetapi karena sebuah “kebutuhan jiwa” tertentu, yang memanfaatkan persahabatan untuk memenuhinya. Maka, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, suatu ketika memperingatkan para “murid” yang sedang menuntut ilmu di bawah bimbingan para ulama. Katanya, “Waspadalah, jangan merasa telah menjadi ulama, hanya karena bergaul dan bersahabat dengan para ulama.”

Apakah kita harus meninggalkan sahabat-sahabat kita yang para pahlawan itu? Tentu saja tidak! Yang perlu kita lakukan adalah meluruskan perasaan kita sendiri dan meluruskan pandangan terhadap diri kita sendiri. Suatu saat, Buya Hamka membawa istrinya kedalam sebuah majelis, dimana ia akan berceramah. Tiba-tiba, tanpa diduga, sang protokol juga mempersilahkan juga istri beliau untuk berceramah. Mereka tentu berprasangka baik: istri sang ulama juga mempunyai ilmu yang sama. Dan, istri beliau benar-benar naik ke podium. Buya Hamka terhenyak. Hanya satu menit. Setelah memberi salam, istrinya berkata, “Saya bukan penceramah, saya hanya tukang masak untuk sang penceramah.”

Jangan melakukan identifikasi diri yag salah. Jangan menilai diri sendiri melampaui kadarnya yang objektif. Namun, ada yang jauh lebih penting dari itu. Jangan pernah berpikir untuk menjadi pahlawan, tanpa melakukan pekerjaan-pekerjaan para pahlawan.

Mother is the best super hero in the world

Jumat, 25 November 2011



Mumpung Ibu Masih ada, coba saat BELIAU tidur saat matanya terpejam kamu tatap wajahnya itu 5 menit saja, kamu akan tau bagaimana rasanya nanti bila wajah itu sudah tak ada di situ... Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan untuknya... LAKUKAN SEKARANG teman2ku sayang, bukan besok atau 5 menit lg karena mungkin sekedip matamu dia akan pergi tak kembali... Klo sudah terlanjur ga ada, yaaahhh jangan lupa doa ma TUHAN. Segala macam doa deh. Miss U Mum... Luv U all Ini adalah mengenai nilai kasih Ibu dari seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan sekeping kertas yang bertuliskan sesuatu, si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh si anak dan membacanya. Ongkos upah membantu ibu: 1) Membantu pergi ke warung: Rp20.000 2) Menjaga adik: Rp20.000 3) Membuang sampah: Rp5.000 4) Membereskan tempat tidur: Rp10.000 5) Menyiram bunga: Rp15.000 6) Menyapu halaman: Rp15.000 Jumlah: Rp85.000 Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama: 1) Ongkos mengandungmu selama 9 bulan: GRATIS 2) OngKos berjaga malam karena menjagamu: GRATIS 3) OngKos air mata yang menetes karenamu: GRATIS 4) Ongkos khawatir krn memikirkan keadaanmu: GRATIS 5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu: GRATIS Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku: GRATIS Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu". Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu di depan surat yang ditulisnya: "Telah Dibayar" LUv Mom I miss u forever Mother is the best super hero in the world.

By:AM

JENIS MAKANAN/CARA MAKAN n SUNNAH



JENIS MAKANAN Rupanya tanpa kita sadari dalam makanan yang kita makan sehari-hari kita tidak boleh sembarangan. Hal inilah penyebab terjadinya berbagai penyakit antara lain penyakit kencing manis, lumpuh, sakit jantung, keracunan makanan dan lain-lain. Diet Rasulullah SAW menyebabkan beliau tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjag makananya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet Rasulullah ini, anda tidak akan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan. Jangan makan SUSU bersama DAGING Jangan makan DAGING bersama IKAN Jangan makan IKAN bersama SUSU Jangan makan AYAM bersama SUSU Jangan makan IKAN bersama TELUR Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD Jangan makan SUSU bersama CUKA Jangan makan BUAH bersama SUSU; contoh COCTAIL CARA MAKAN * * Jangan makan buah setelah makan nasi, sebaiknya makanlah buah terlebih dahulu sebelum makan nasi. biasanya kita malah kebalikannya ya? * * Tidur 1 jam setelah makan tengah hari (makan siang). kalo yang namanya abis makan n kenyang tidurnya bukan cuma sejam bisa berjam-jam. * * Jangan sekali-kali tinggal untuk makan malam, barang siapa yang tinggal untuk makan malam dia akan dimakan usia dan kolsterol dalam badan akan berganda (maksudnya jangan makan diwaktu tengan malam). kalo yang ini bagi yang sering begadang malah sering dilakukan. biasanya malam2 keluar nyari burjo (warung bubur kacang ijo 24 jam). * * Dalam kitab juga melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makanan laut. Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama susu karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus . SUNAH CARA MAKAN MENURUT NABI SAW 1. Makan garam secuil sebelum makan untuk menolak 70 macam penyakit dan ambil lagi secuil dengan jari manis tangan kanan setelah makan. Makanlah dengan tangan kanan (tanpa sendok). Sebaiknya kita yang menunggu makanan dan bukan makanan yang menunggu. 2. Berdoa sebelum dan sesudah makan, cuci tangan dan minum dengan memegang gelas dengan tangan kanan, meskipun tangan tersebut bekas kuah. ini juga sedikit ga nyaman diliatin org 3. Duduk dibawah bukan dibangku dan makan dimulai dari pinggir dan terakhir ketengah. Baik sekali makan berjamaah bersama keluarga maupun teman seperti ketika haji atau buka puasa bersama di Masjid dalam satu nampan bias untuk 4 orang. 4. Jangan sisakan sebutir nasipun karena nasi ini berdzikir
by:F

Renungan

Kisah Islami

 
© Copyright HikmahMu | Published by Tutorial Blog