Berita On Line Lainnya
Materi Umum
Materi Mentoring
Syair dan Puisi
Tampilkan postingan dengan label Materi Mentoring. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Mentoring. Tampilkan semua postingan
03.31
Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an."
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"
Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayanh dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"
Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."
Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya."
Al-Qur'an Sebagai Pembela
Jumat, 19 Juni 2009
Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an."
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"
Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayanh dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"
Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."
Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya."
07.35

Menurut ajaran Islam, pergaulan dan hubungan umat Islam dengan non muslim haruslah dibangun atas dasar ahlaqul karimah. Secara umum, dalam hubungan dengan umat Islam, orang kafir terbagi dua macam ; kafir muharib, yaitu orang kafir yang memerangi umat Islam dan kafir ghairu muharib yaitu orang kafir yang tidak memerangi umat Islam.
Beberapa prinsip pergaulan yang harus dijaga umat Islam dengan kafir ghairu muharib adalah :
1. Menahan diri melakukan kedzaliman, penghinaan dan tindakan yang melampaui batas (melanggar HAM).
2. mempraktekkan prinsip-prinsip ahlak Islam, diantaranya : kejujuran, amanat, kesadaran, keadilan, dan kasih sayang sesuai dengan tuntunan syariat serta berbagai ahlak terpuji lainnya.
3. dibenarkan berbuat baik dan melakukan berbagai amal kemanusiaan lainnya.
Tetapi hal yang perlu diingat oleh umat Islam adalah pergaulan dan hubungan yang baik dengan orang kafir itu hendaknya tidak membuatnya setia, cinta dan mengutamakan mereka atas umat Islam, atau mengakibatkannya berbasa-basi dan tidak tegas dalam masalah kekufuran, atau membuatnya berlebihan dalam memuji mereka, memuji peribadatan ritual mereka atau menyampaikan ucapan selamat pada hari-hari besar agama mereka atau yang sejenisnya yang merupakan syari’at agama mereka.
Adapun prinsip-prinsip hubungan dengan kafir muharib diantaranya :
1. Dilarang mendahului memerangi mereka sebelum disampaikannya dakwah.
2. Dilarang menipu dan menyiksa dalam peperangan.
3. Dilarang membunuh orang yang semestinya dibiarkan, yaitu orang-orang yang tidak ikut berperang, seperti : anak-anak, wanita, pendeta, dan para ahli ibadah yang berada di biara mereka juga orang tua yang tak mampu lagi berperang.
4. Dilarang merusak tanaman, membinasakan buah-buahan, membakar rumah –tanpa diperlukan-, meracuni air dan sejenisnya.
Akhlak Rosulullah terhadap Non muslim
Akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an sebagaimana riwayat dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha ketika ditanya akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Radhiyallahu ‘anha menjawab.
“Artinya : Akhlak beliau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah Al-Qur’an”
Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha membacakan ayat.
“Artinya : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” [Al-Qalam : 4]
Kata “khuluqin ‘azhim” (budi pekerti yang agung) dalam ayat ini, mencakup seluruh akhlak terhadap semua makhluk, sebagaimana sudah disampaikan pada ceramah yang pertama tadi seputar rahmat (Lihat artikel “Islam Rahmat Bukan Ancaman). Rahmat (rasa kasih sayang) merupakan akhlak yang paling tinggi, motivator serta motor penggerak utama suatu akhlak.
Jika contoh-contoh dan riwayat-riwayat yang telah dibawakan dalam ceramah tersebut berkaitan dengan akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang kafir dalam peperangan, maka bagaimana kita akan menggambarkan akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap mereka dalam kondisi damai?
Saya akan menyebutkan tiga hadits tentang hal itu.
Hadits Pertama, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : …. Sesungguhnya para utusan (duta) itu tidak boleh dibunuh” [Hadits Riwayat Abu Dawud]
Maksudnya adalah, para utusan yang dikirim oleh orang-orang kafir sebagai duta dan penghubung antara kaum muslimin dengan kaum kafir.
Keadilan dan kasih sayang Islam tidak memperbolehkan untuk membunuh dan menyakiti mereka. Karena, dalam Islam terdapat ajaran (agar menjaga dan mentaati) perjanjian dan ikatan janji.
Ini diantara gambaran cara bergaul tingkat tinggi dari kaum muslimin, atau dari agama Islam, atau dari Nabi Islam kepada orang-orang kafir, non Islam.
Hadits Kedua, yaitu dalam wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mua’dz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : …. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” [Hadits Riwayat Ahmad, Tirmidzi, Darimi]
Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan “Pergaulilah kaum muslimin, atau orang-orang yang shalih, atau orang-orang yang mengerjakan shalat”, akan tetapi beliau mengatakan “ … dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.
Maksudnya adalah semua menusia, yang kafir, yang muslim, yang mushlih (yang melakukan perbaikan), yang faajir (jahat) dan yang shalih, sebagai bentuk keluasan rahmat dan kelengkapannya dengan akhlak din (agama).
Hadits Ketiga, yaitu hadits tentang seorang Yahudi, tetangga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering menyakiti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Suatu ketika, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa orang yang selalu menyakitinya ini memiliki seorang anak yang sedang sekarat. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang berkunjung ke rumahnya dan mengajaknya menuju jalan Rabb-nya, dengan harapan semoga Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki keadaan orang ini.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas keburukan dengan kebaikan, meskipun terhadap orang kafir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada si anak, sementara bapaknya juga ada bersama mereka.
“Artinya : Wahai bocah, katakanlah laa ilaaha illallah, itu akan menyelamatkanmu dari api neraka”.
Mendengar seruan ini, si anak memandang ke arah bapaknya dan memperhatikannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi lagi.
“Artinya : Wahai bocah, katakanlah laa ilaaha illallah!”
Si anak memandang ke arah bapaknya lagi.
Kejadian yang sama juga terjadi antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pamannya, Abu Thalib, yang senantiasa membantu dan menolong Islam, kaum muslimin serta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi, dia tidak masuk Islam. Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya.
“Artinya : Wahai paman, katakanlah laa ilaaha illallah ….”
Mendengar seruan ini, Abu Thalib memandang para pembesar Quraisy. Lalu mereka mengatakan.
“Artinya : Apakah kamu benci terhadap agama nenek moyangmu” [Hadits ini diriwayatkan Imam Bukhari]
Akhirnya Abu Thalib meninggal dalam kekafiran.
Sedangkan orang Yahudi (dalam cerita diatas) yang mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak anaknya agar masuk Islam, Allah menceritakan kondisi mereka.
“Artinya : Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka tidak beriman (kepada Allah)” [Al-An’am : 20]
Bagaimana jawaban dan responnya ? Orang Yahudi itu mengatkan.
“Artinya : Wahai anakku, taatlah kepada Abul Qasim (Muhammad)!”.
Maka si anak, mengucapkan syahadatain : “Asyhadu an laailaha illaallah wa annaka rasulullah”. Sebelum menghembuskan napas terakhir.
Mendapat respon positif ini, Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari nereka dengan sebabku” [Hadits Riwayat Bukhari, 1356, Ahmad, Abu Dawud]
Inilah akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, adab beliau yang luhur terhadap orang-orang non muslim, ketika kondisi perang dan dalam keadaan damai. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan akhlak kita sama seperti akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan semoga Allah menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan terbaik kita. Allah berfirman.
“Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahnat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” [Al-Ahzab : 21]
[Syaikh Ali bin Abdul Hamid Hasan Al-Halaby, dalam Muhadharah di Masjid Istiqlal Jakarta, 19 Februari 2006]
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M, Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta. Jl Solo-Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]
Akhlak Seorang Muslim Terhadap Non Muslim
Senin, 23 Maret 2009

Beberapa prinsip pergaulan yang harus dijaga umat Islam dengan kafir ghairu muharib adalah :
1. Menahan diri melakukan kedzaliman, penghinaan dan tindakan yang melampaui batas (melanggar HAM).
2. mempraktekkan prinsip-prinsip ahlak Islam, diantaranya : kejujuran, amanat, kesadaran, keadilan, dan kasih sayang sesuai dengan tuntunan syariat serta berbagai ahlak terpuji lainnya.
3. dibenarkan berbuat baik dan melakukan berbagai amal kemanusiaan lainnya.
Tetapi hal yang perlu diingat oleh umat Islam adalah pergaulan dan hubungan yang baik dengan orang kafir itu hendaknya tidak membuatnya setia, cinta dan mengutamakan mereka atas umat Islam, atau mengakibatkannya berbasa-basi dan tidak tegas dalam masalah kekufuran, atau membuatnya berlebihan dalam memuji mereka, memuji peribadatan ritual mereka atau menyampaikan ucapan selamat pada hari-hari besar agama mereka atau yang sejenisnya yang merupakan syari’at agama mereka.
Adapun prinsip-prinsip hubungan dengan kafir muharib diantaranya :
1. Dilarang mendahului memerangi mereka sebelum disampaikannya dakwah.
2. Dilarang menipu dan menyiksa dalam peperangan.
3. Dilarang membunuh orang yang semestinya dibiarkan, yaitu orang-orang yang tidak ikut berperang, seperti : anak-anak, wanita, pendeta, dan para ahli ibadah yang berada di biara mereka juga orang tua yang tak mampu lagi berperang.
4. Dilarang merusak tanaman, membinasakan buah-buahan, membakar rumah –tanpa diperlukan-, meracuni air dan sejenisnya.
Akhlak Rosulullah terhadap Non muslim
Akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an sebagaimana riwayat dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha ketika ditanya akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Radhiyallahu ‘anha menjawab.
“Artinya : Akhlak beliau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah Al-Qur’an”
Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha membacakan ayat.
“Artinya : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” [Al-Qalam : 4]
Kata “khuluqin ‘azhim” (budi pekerti yang agung) dalam ayat ini, mencakup seluruh akhlak terhadap semua makhluk, sebagaimana sudah disampaikan pada ceramah yang pertama tadi seputar rahmat (Lihat artikel “Islam Rahmat Bukan Ancaman). Rahmat (rasa kasih sayang) merupakan akhlak yang paling tinggi, motivator serta motor penggerak utama suatu akhlak.
Jika contoh-contoh dan riwayat-riwayat yang telah dibawakan dalam ceramah tersebut berkaitan dengan akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang kafir dalam peperangan, maka bagaimana kita akan menggambarkan akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap mereka dalam kondisi damai?
Saya akan menyebutkan tiga hadits tentang hal itu.
Hadits Pertama, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : …. Sesungguhnya para utusan (duta) itu tidak boleh dibunuh” [Hadits Riwayat Abu Dawud]
Maksudnya adalah, para utusan yang dikirim oleh orang-orang kafir sebagai duta dan penghubung antara kaum muslimin dengan kaum kafir.
Keadilan dan kasih sayang Islam tidak memperbolehkan untuk membunuh dan menyakiti mereka. Karena, dalam Islam terdapat ajaran (agar menjaga dan mentaati) perjanjian dan ikatan janji.
Ini diantara gambaran cara bergaul tingkat tinggi dari kaum muslimin, atau dari agama Islam, atau dari Nabi Islam kepada orang-orang kafir, non Islam.
Hadits Kedua, yaitu dalam wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mua’dz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : …. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” [Hadits Riwayat Ahmad, Tirmidzi, Darimi]
Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan “Pergaulilah kaum muslimin, atau orang-orang yang shalih, atau orang-orang yang mengerjakan shalat”, akan tetapi beliau mengatakan “ … dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.
Maksudnya adalah semua menusia, yang kafir, yang muslim, yang mushlih (yang melakukan perbaikan), yang faajir (jahat) dan yang shalih, sebagai bentuk keluasan rahmat dan kelengkapannya dengan akhlak din (agama).
Hadits Ketiga, yaitu hadits tentang seorang Yahudi, tetangga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering menyakiti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Suatu ketika, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa orang yang selalu menyakitinya ini memiliki seorang anak yang sedang sekarat. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang berkunjung ke rumahnya dan mengajaknya menuju jalan Rabb-nya, dengan harapan semoga Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki keadaan orang ini.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas keburukan dengan kebaikan, meskipun terhadap orang kafir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada si anak, sementara bapaknya juga ada bersama mereka.
“Artinya : Wahai bocah, katakanlah laa ilaaha illallah, itu akan menyelamatkanmu dari api neraka”.
Mendengar seruan ini, si anak memandang ke arah bapaknya dan memperhatikannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi lagi.
“Artinya : Wahai bocah, katakanlah laa ilaaha illallah!”
Si anak memandang ke arah bapaknya lagi.
Kejadian yang sama juga terjadi antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pamannya, Abu Thalib, yang senantiasa membantu dan menolong Islam, kaum muslimin serta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi, dia tidak masuk Islam. Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya.
“Artinya : Wahai paman, katakanlah laa ilaaha illallah ….”
Mendengar seruan ini, Abu Thalib memandang para pembesar Quraisy. Lalu mereka mengatakan.
“Artinya : Apakah kamu benci terhadap agama nenek moyangmu” [Hadits ini diriwayatkan Imam Bukhari]
Akhirnya Abu Thalib meninggal dalam kekafiran.
Sedangkan orang Yahudi (dalam cerita diatas) yang mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak anaknya agar masuk Islam, Allah menceritakan kondisi mereka.
“Artinya : Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka tidak beriman (kepada Allah)” [Al-An’am : 20]
Bagaimana jawaban dan responnya ? Orang Yahudi itu mengatkan.
“Artinya : Wahai anakku, taatlah kepada Abul Qasim (Muhammad)!”.
Maka si anak, mengucapkan syahadatain : “Asyhadu an laailaha illaallah wa annaka rasulullah”. Sebelum menghembuskan napas terakhir.
Mendapat respon positif ini, Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari nereka dengan sebabku” [Hadits Riwayat Bukhari, 1356, Ahmad, Abu Dawud]
Inilah akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, adab beliau yang luhur terhadap orang-orang non muslim, ketika kondisi perang dan dalam keadaan damai. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan akhlak kita sama seperti akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan semoga Allah menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan terbaik kita. Allah berfirman.
“Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahnat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” [Al-Ahzab : 21]
[Syaikh Ali bin Abdul Hamid Hasan Al-Halaby, dalam Muhadharah di Masjid Istiqlal Jakarta, 19 Februari 2006]
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M, Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta. Jl Solo-Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]
07.34
“Barangsiapa berada dalam kebutuhan saudaranya, maka Allah berada dalam kebutuhannya, dan barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari orang Muslim dari berbagai kesusahan dunia, maka Allah menghilangkan darinya satu kesusahan dari berbagai kesusahan pada hari kiamat.”
”Kalian tidak masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah kuberitahukan sesuatu kepada kalian, jika mengerjakannya kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam.” (HR. Muslim)
“Jika salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah mengucapkan, ‘Alhamdulillah’, dean hendaklah saudara atau sahabatnya menjawab, ‘Yarhamukallah’ , dan hendaklah dia (yang bersin) mengucapkan ‘Yarhamukallah wa yuslihu balakum’.”
“Barangsiapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka ada penyeru yang menyerunya, ‘Semoga engkau bagus dan bagus pula perjalananmu, serta engkau mendiami suatu tempat tinggal di surga’.”
“Hak orang Muslim atas orang Muslim lainya ada 5 macam : menjawab salam, mengunjungi yang sakit, mengiring jenazah, memenui undangan, dan menjawab orang bersin,” (HR. Asy Syaikhani)
“Setiap Muslim atas Muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”
“Jauhilah persangkaan, karena persangkaan itu perkataan yang paling dusta.”
“Janganlah kalian saling mengawasi, janganlah saling mencari keterangan, janganlah saling memutuskan hubungan, janganlah saling membelakangi, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Mustafaq Alaihi)
“Barangsiapa menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)
“Saling berilah hadiah, niscaya kalian saling mencintai.” (HR. Baihaqqi)
“Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, maka hendaklah dia menberitahukannya.” (HR. Abu Daud dan Timidzi)
“Tidaklah Allah memberi tambahan kepada seorang hamba yang suka memberi maaf melainkan kemuliaan.” (HR Muslim)
“Doa seseorang bagi saudaranya dari tempat yang jauh adalah terkabulkan.”
Hadist-hadist di atas adalah sabda Rasulullah saw.
Akhlak Terhadap Sesama Muslim
“Barangsiapa berada dalam kebutuhan saudaranya, maka Allah berada dalam kebutuhannya, dan barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari orang Muslim dari berbagai kesusahan dunia, maka Allah menghilangkan darinya satu kesusahan dari berbagai kesusahan pada hari kiamat.”
”Kalian tidak masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah kuberitahukan sesuatu kepada kalian, jika mengerjakannya kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam.” (HR. Muslim)
“Jika salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah mengucapkan, ‘Alhamdulillah’, dean hendaklah saudara atau sahabatnya menjawab, ‘Yarhamukallah’ , dan hendaklah dia (yang bersin) mengucapkan ‘Yarhamukallah wa yuslihu balakum’.”
“Barangsiapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka ada penyeru yang menyerunya, ‘Semoga engkau bagus dan bagus pula perjalananmu, serta engkau mendiami suatu tempat tinggal di surga’.”
“Hak orang Muslim atas orang Muslim lainya ada 5 macam : menjawab salam, mengunjungi yang sakit, mengiring jenazah, memenui undangan, dan menjawab orang bersin,” (HR. Asy Syaikhani)
“Setiap Muslim atas Muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”
“Jauhilah persangkaan, karena persangkaan itu perkataan yang paling dusta.”
“Janganlah kalian saling mengawasi, janganlah saling mencari keterangan, janganlah saling memutuskan hubungan, janganlah saling membelakangi, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Mustafaq Alaihi)
“Barangsiapa menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)
“Saling berilah hadiah, niscaya kalian saling mencintai.” (HR. Baihaqqi)
“Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, maka hendaklah dia menberitahukannya.” (HR. Abu Daud dan Timidzi)
“Tidaklah Allah memberi tambahan kepada seorang hamba yang suka memberi maaf melainkan kemuliaan.” (HR Muslim)
“Doa seseorang bagi saudaranya dari tempat yang jauh adalah terkabulkan.”
Hadist-hadist di atas adalah sabda Rasulullah saw.
Langganan:
Postingan (Atom)


